Rudal Balistik Antar Benua – ICBM

2009-04-07

Sehubungan dengan peluncuran rudal jarak jauh Korea Utara pada tanggal 5 April lalu, argumentasi untuk mengevaluasi kemampuan produksi rudal balistik antar benua, ICBM oleh Korea Utara mulai semakin hangat dibicarakan.
Sebuah evaluasi menilai bahwa kemampuan Korea Utara hampir mendekati produksi ICBM berlandaskan pada perhitungan jarak penerbangan rudal jarak jauh Korea Utara kali ini. Sementara, ada juga pendapat kontra, yakni jika dilihat dari kehilangan daya peluncuran tahap ke-3 rudal jarak jauh Korea Utara kali ini, rudal tersebut belum sanggup disebut sebagai ICBM.

ICBM

ICBM adalah rudal jarak jauh yang dapat menghantam sasaran antarbenua. Rudal ini diluncurkan dengan kekuatan peluncuran roket sendiri untuk diterbangkan jarak jauh dan dengan seketika kekuatan peluncurannya dihentikan. ICBM dapat berfungsi sebagai bom dahsyat dengan posisi lintasan peluru. Ada juga rudal penjelajah, yakni peluru kendali yang dikontrol oleh kekuatan roket peluncur secara keseluruhan dari tahap peluncuran sampai tahap pemboman. ICBM dikembangkan oleh Uni Soviet pada tahun 1957 untuk bersaing dengan Amerika Serikat. Teknologi pembuatan ICBM dewasa ini mampu meluncurkan rudal dalam jarak 10 ribu kilometer dengan penggunaan bahan bakar padat efisiensi tinggi untuk menghantam sasarannya dengan lebih tepat.

Rudal Korea Utara

Masih ada berbagai evaluasi terhadap keberhasilan atau kegagalan peluncuran rudal jarak jauh Korea Utara pada tanggal 5 April. Dengan kesimpulan, seandainya Korea Utara berhasil mengorbitkan satelit di ruang angkasa, berbagai evaluasi dan desus-desus selama ini akan segera lenyap. Apabila satelit Korea Utara dimasukkan dalam posisi orbit di ruang angkasa, peluncuran roket jarak jauh Korea Utara kali ini, dapat dievaluasi sebagai suatu keberhasilan. Namun demikian, Korea Selatan dan Amerika Serikat mengevaluasi bahwa Korea Utara gagal total mengorbitkan satelitnya di ruang angkasa, meskipun Korea Utara hingga kini terus mengumumkan keberhasilannya. Sementara itu, sejumlah besar negara tetap mencurigai Korea Utara karena sebenarnya Korea Utara telah melakukan uji coba peluncuran rudal jarak jauh bukan peluncuran satelit, yang akan menimbulkan berbagai dampak negatif. Oleh karena itu, masalah kemampuan produksi dan kemampuan peluncuran ICBM Korea Utara melalui pembuktian terhadap rudal jarak jauh Korea Utara kali ini akan terus memunculkan berbagai desas-desus.

Pembuktian Kemampuan ICBM oleh Korea Utara

Ada 3 segi standar evaluasi untuk menilai kemampuan ICBM. Yang pertama adalah jarak terbang rudal, kedua kemampuan peringanan kepala rudal dan yang terakhir adalah kemampuan memasukkan kembali rudal ke atmosfir. Khususnya, untuk mengevaluasi kemampuan daya terbang, teknologi pemisahan roket pada peluncuran antara tahap ke-dua dan ke-tiga juga merupakan salah satu kunci utama.

Roket dan Kemampuan ICBM Korea Utara
Kemampuan ICBM Roket Jarak Jauh Korea Utara Kali Ini Evaluasi
Jarak terbang Dari pangkalan peluncuran rudal Musudan-ri, Korea Utara, bagian pertama dan bagian kedua rudal jarak jauh Korea Utara, terjatuh posisi masing-masing sekitar 500 kilometer dan 3.100 kilometer Apabila rudal jarak jauh Korea Utara kali ini dipasangi kepala, dapat dikatakan sebagai rudal jarak jauh yang dapat beterbangan sejauh 4.000 – 5.000 kilometer, hampir mendekati jangkauan ICBM
Daya Pelucuran Roket Tahap kedua Rudal jarak jauh Korea Utara, diketahui terjatuh, setelah gagal dipisahkan antara roket peluncuran bagian ke-dua dengan ke-tiga Kehilangan daya luncur roket tahap ke-dua dan kegagalan peluncuran roket tahap ke-tiga belum dapat dievaluasi sebagai ICBM
Peringanan Kepala Rudal Roket jarak jauh Korea Utara gagal meluncurkan benda 150-200 kilogram sampai ketinggian sekitar 550 kilometer dari permukaan bumi Berat fasilitas uji coba peledakan nuklir pada tahun 2006, diperkirakan sekitar 1.500 kilogram. Kemampuan ini tidak menunjukkan keterbatasan kemampuan Korea Utara untuk meluncurkan rudal jarak jauh, ICBM
Memasukkan Kembali ke Atmosfir Rudal Korea Utara gagal mengorbitkan benda di ruang angkasa. Seandainya, Korea Utara meluncurkan satelit, tidak perlu lagi melakukan usaha untuk memasukkan kembali benda itu ke atmosfir ICBM diluncurkan sampai lintasan orbit untuk terbang sampai titik jatuhnya ke sasaran di atas bumi melalui pelintasan atmosfir. Diperlukan teknologi canggih untuk mengontrol tingkat ketinggian panas ICBM pada saat melintasi atmosfir

Evaluasi

Sebagai evaluasi umum, melalui peluncuran rudal jarak jauh kali ini, Korea Utara dapat menunjukkan kemampuan untuk memperpanjang jarak terbang rudalnya, tetapi gagal menunjukkan kemampuan produksi ICBM. Namun demikian, Korea Utara telah berhasil memperpanjang jarah terbang hampir 2 kali lipat lebih panjang dari pada rudal Daepodong 1 yang diluncurkan 10 tahun yang lalu. Bukti ini menunjukkan adanya peningkatan kemampuan produksi rudal Korea Utara. Hal inilah yang sedang menjadi pusat perhatian dan kegelisaan masyarakat internasional.

  • Top
  • Print
  • Twitter
  • Facebook
prev  prev  1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 next