Pelukis Legendaris Di Kerajaan Joseon, Shin Yun-bok

2010-06-18

'Danopungjeong(단오풍정(端午風情)'
Hari Dano berarti hari kelima dari bulan Mei menurut penanggalan Imlek. Di kerajaan Joseon, hari Dano dianggap sebagai salah satu dari tiga hari besar bersama dengan tahun baru, dan hari raya Chuseok . Pada hari ini para wanita yang selalu menghabiskan waktunya di dalam kamar dapat menikmati waktu di luar rumah sambil main ayunan, dan mencuci rambut dengan air hasil rebusan sejenis rumput yang dinamakan Changpo. Ada sebuah lukisan yang menggambarkan kenikmatan dan kegembiraan pada hari Dano, yaitu karya dari pelukis Shin Yun-bok berjudul 'Danopungjeong' yang melukiskan penampilan para wanita yang menikmati hari Dano.

Figur Shin Yun Bok yang sangat misterius
Shin Yun-bok adalah pelukis kenamaan di masa Joseon bersama gurunya, Kim Hong-do. Namun, catatan tentang Shin Yun-bok hampir tidak ada, kecuali kalimat yang singkat dari kamus pelukis Korea yang dituliskan oleh Oh Se-chang yang berbunyi :

'Shin Yun-bok, nama pena Hyewon, lahir di Goryoeng, putra dari Shin Han-pyeong dan jabatannya adalah pelukis istana yang dinamakan 'Cheomsa', lancar melukis lukisan bertema kehidupan sehari-hari masyarkat.'

Shin Yun-bok diperkirakan hidup sekitar akhir abad ke-18 hingga awal abad ke-19. Walaupun catatan tentang Shin tidak begitu banyak, namun ada banyak lukisan yang menggambarkan pandangannya.

Menjalani Kehidupan Sendiri Di Joseon
Salah satu karya Shin Yun-bok yang terkenal adalah lukisan yang menggambarkan kehidupan sehari-hari dari masyarakat. Selain lukisan bertema alam seperti pohon, air, bunga, burung, Shin juga membuat lukisan bertema kehidupan sehari-hari yang memfokuskan orang.

Guru Shin yaitu Kim Hong-do cenderung melukiskan kehidupan sehari-hari masyarakat awam yang melakukan kerja sehari-hari, serta pelukis lain bernama Kim Deuk-shin juga menyampaikan kisah kehidupan masyarakat lewat sejumlah lukisan yang menggambarkan kerja seperti membuat sepatu jerami, menangkap ikan dll. Namun, Shin Yun-bok terkenal karena lukisan yang bertema percintaan antara laki-laki dan wanita.

Lewat lukisan berjudul 'Wolhajeongin' Shin menggambarkan pasangan kekasih yang bertemu dengan sembunyi-sembunyi pada malam hari, lukisan berjudul 'Yeondangyayudo' yang bertemakan permainan kelas Yangban bersama wanita penghibur, lukisan berjudul 'Seonyudo' yang menggambarkan permainan di atas kapal yang dilakukan oleh wanita penghibur dan laki-laki yang gemar bersolek, pesta pora tanpa mau bekerja yang disebut Hanryang, Shin Yun-bok mengkritik kehidupan tersembunyi kelas sosial Yangban.


Disamping itu, Shin Yun-bok yang mahir menggunakan warna sering menampilkan para wanita dalam lukisannya seperti halnya lukisan berjudul 'Portrait Of A Beauty'.

Shin Yun-bok yang menimbulkan sensasi besar lewat lukisan bertema keindahan wanita dan percintaan antara laki-laki dan wanita yang dinilai vulgar dan cabul di kerajaan Joseon yang dipengaruhi oleh paham konghucu membuat dia diusir dari Dohwaseo, yaitu badan yang bertanggungjawab untuk membuat lukisan kerajaan.

Perkiraan bahwa Shin Yun-bok mungkin pernah menjadi murid Kim Hong-do didasarkan pada sejumlah lukisan yang menunjukkan gaya melukis yang saling berhubungan dari dua pelukis itu.

Painter Of The Wind, Meniupkan Angin
Setelah novel berjudul 'Painter Of The Wind' yang mengungkapkan kehidupan dan karya pelukis Kim Hong-do dan Shin Yun-bok diterbitkan tahun 2007, kehidupan Shin Yun-bok yang misterius menarik perhatian masyarakat, dan sindrom itu berlanjut lewat sinetron 'Painter Of The Wind', film 'Portrait Of A Beauty', dan acara pameran di museum seni lukis Gansong. Walaupun Shin Yun-bok tidak memperhatikan kehidupannya sendiri, namun dia menimbulkan sensasi yang luar biasa dimasa sekarang. Shin Yun-bok dapat dikatakan sebagai pelukis yang datang dan cepat menghilang seperti angin.

  • Top
  • Print
  • Twitter
  • Facebook
prev  prev  1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 next