Pergi ke Menu Pergi ke Halaman Utama

AS kembali menerapkan sanksi perdagangan pada Iran mulai tgl. 6 Agustus

#Ulasan Hari Ini l 2018-08-06

Warta Berita

ⓒ KBS News

AS kembali memberlakukan sanksi perdagangan terhadap Iran untuk pertama kalinya dalam 2 tahun 7 bulan sejak sanksi tersebut sempat dilonggarkan atau ditangguhkan dalam pelaksanaan kesepakatan nuklir Januari 2016. Sebelumnya pada tgl. 8 Mei, AS telah mengumumkan tindakan pemberlakuan sanksi dan menentukan masa tenggang sanksi selama 90 atau 180 hari, sejalan dengan jenis produk yang diperdagangkan. Masa tenggang sanski selama 90 hari yang diberikan kepada produk mobil, emas, besi baja dan batu bara telah berakhir pada tgl.6 Agustus ini. 


Jika AS kembali memberlakukan sanksi kepada Iran, mereka juga akan melarang dan memberlakukan sanksi sekunder pada negara dan perusahaan yang melakukan transaksi dengan Iran. Oleh karena itu, perusahaan-perusahaan domestik telah berupaya untuk mengurangi perdagangan dengan Iran secara bertahap. Hasilnya, jumlah eskpor ke Iran dalam periode bulan Januari hingga bulan Juni tahun ini mengalami penurunan 15,4%, sedangkan jumlah ekspor untuk bulan Juli juga turun 19,4%. Nilai ekspor Korea ke Iran tercatat mencapai 6,25 miliar dolar pada tahun 2012. Namun volume ekspor itu anjlok tajam menjadi 4,48 miliar dolar pada tahun 2013, saat pemerintahan Obama menerapkan sanksi atas Iran. Angka itu pernah merosot ke angka 3,71 miliar dolar pada tahun 2016, namun mulai menunjukkan pemulihan pada tahun lalu. Meskipun demikian, perdagangan dengan Iran kembali menyusut pasca penerapan sanksi AS terhadap Iran. 


Masalah yang lebih serius adalah impor minyak mentah. Waktu tenggang sanksi selama 180 hari atas ekspor minyak Iran akan berakhir pada tgl.4 November mendatang. Pemerintah Korea Selatan dan AS sedang membahas langkah untuk mengecualikan minyak dari daftar sanksi, karena minyak menguasai sebagian besar impor Korea Selatan dari Iran. Pada era pemerintahaan Obama, Korea Selatan berhasil dibebaskan dari sanksi itu, dengan impor minyak berkurang sebanyak 20%. Sehingga Korea Selatan tetap mampu mengimpor minyak produk Iran walau dalam penerapan sanksi. Namun, pemerintahan Trump kemungkinan akan meminta Korea Selatan untuk memangkas lebih banyak jumlah impor minyak tersebut. 


Pembayaran impor minyak Iran dilakukan dengan menggunakan rekening mata uang Korea Selatan melalui bank domestik. Maka, jika Iran mengimpor barang dari Korea Selatan, pihak Iran akan menggunakan uang yang ada di bank domestik Korea Selatan tersebut untuk pembayaran. Oleh karena itu, impor minyak produk Iran sangat penting bagi perekonomian Korea Selatan karena berdampak langsung pada eskpor Korea Selatan ke Iran. 

Pilihan Editor