Pergi ke Menu Pergi ke Halaman Utama

Korut Tampak Merehabilitasi Fasilitas Landasan Misil di Dangchang-ri

#Isu Sepekan l 2019-03-10

Warta Berita

ⓒYONHAP News

Korea Utara diketahui melakukan rehabilitasi fasilitas landasan misil di Dongchang-ri setelah gagal mencapai kesepakatan dalam KTT kedua dengan AS di Hanoi, Vietnam.


Badan Intelijen Nasional (BIN) Korea Selatan di parlemen pada tanggal 5 Maret melaporkan Korea Utara memulihkan sebagian fasilitas misil di Dongchang-ri dan kawasan institut misil di Saneum-dong.


Sebelumnya, situs web AS yang memantau Korea Utara, ‘38 North’ dan Pusat Kajian Strategis dan Internasional (CSIS) menyampaikan rehabilitasi di Dongcang-ri dengan foto satelit terkaitnya. BIN menganalisa gerakan tersebut sebagai gerakan dua arah oleh Korea Utara, Dengan kata lain, jika KTT berhasil, mereka bertujuan untuk meningkatkan efek publisitas ketika membongkar situs peluncuran rudal dan ada kemungkinan untuk menggunakan fasilitas tersebut sebagai situs peluncuran rudal jika negosiasi dengan AS gagal.


Sehubungan dengan hal itu, Kementerian Pertahanan Korea Selatan pada tanggal 7 Maret menyatakan pihaknya mengawasi gerakan di kedua tempat di Korea Utara tersebut dan juga mempertahankan kolaborasi dengan otoritas pertahanan AS.


Landasan milis Dongchang-ri merupakan salah satu fasilitas yang akan dihancurkan secara permanen dalam Deklarasi Pyongyang yang diumumkan Moon Jae-in dan Kim Jong-un pada bulan September tahun lalu. Menjelang negosiasi dengan AS yang dimulai tahun lalu, Korea Utara mulai melakukan pembongkaran bangunan bergerak dan landasan mesin uji coba.


Setelah KTT Korea Utara-AS ke-2 tidak berhasil, kedua pihak mengeluarkan pesan yang bersifat keras dan lemah secara kebersamaan. Meteri Luar Negeri Mike Pompeo mengatakan pihaknya ingin mengirim delegasi ke Pyongyang dalam beberapa minggu kedepan dan menegaskan niatnya untuk melakukan negosiasi dengan Korea Utara. Sedangkan Penasihat Dewan Keamanan Nasional (NSC) Gedung Putih John Bolton menekan Korea Utara bahwa AS akan menambah sanksi jika Korea Utara tidak mau melakukan denuklirisasi.


Sementara itu, Kantor berita resmi Korea Utara (KCNA) pada tanggal 1 Maret menilai KTT Korea Utara-AS menjadi kesempatan penting untuk memajukan hubungan bilateral dan kedua pihak berjanji untuk meneruskan pembicaraan produktif. Sedangkan Wakil Menteri Luar Negeri Korea Utara Choe Son-hee dalam pertemuan dengan wartawan pada hari sama mengatakan pihaknya merasa tidak perlu menjalankan pembicaraan dengan AS.


Sikap kedua pihak seperti itu untuk adu taktik masing-masing untuk menduduki posisi yang lebih baik pada negosiasi yang mungkin diadakan dikemudian hari. Namun, dikhawatirkan adu taktik yang panas akan menimbulkan kondisi yang tidak dinginkan. Sebab itu, pemerintah Korea Selatan tengah mencoba bergiat agar kedua pihak segera kembali melakukan perundingan sesegera mungkin.

Pilihan Editor