Pergi ke Menu Pergi ke Halaman Utama

Diplomasi Regional Bergejolak Menyusul Peluncuran Proyektil Korea Utara

#Fokus Sepekan l 2019-05-09

Selangkah Satu Korea

© YONHAP News

Perundingan nuklir yang tersendat antara Korea Utara dan AS memasuki fase baru, karena Korea Utara meluncurkan beberapa proyektil jarak pendek pada tanggal 4 Mei dan tanggal 9 Mei. Para pemimpin Korea Selatan dan AS saling menahan diri untuk mengkritik Korea Utara dan sebagai gantinya mencoba untuk mengelola situasi terkini. Kini, perhatian tertuju pada bagaimana diplomasi regional akan berkembang pasca peluncuran proyektil dari Pyongyang baru-baru ini. 


Kementerian Pertahanan di Seoul melaporkan kepada Majelis Nasional bahwa sulit untuk menentukan apakah beberapa proyektil itu adalah rudal jarak pendek atau bukan. Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo juga mengatakan pada hari Minggu (5/5/19), bahwa jangkauan proyektil itu relatif pendek dan mengungkapkan bahwa Washington memiliki keyakinan tinggi bahwa proyektil itu bukanlah rudal balistik antar-benua. Baik Korea Selatan maupun AS tampak berhati-hati dalam menentukan jenis proyektil tersebut, karena khawatir atas kemungkinan Korea Utara mengeluarkan diri dari jalur dialog denuklirisasi. 


Jika proyektil yang diluncurkan oleh Korea Utara itu terbukti adalah rudal, dunia internasional mau tidak mau harus merespon provokasi itu secara politik dan diplomatik. Jika demikian, hal ini dapat menggagalkan dialog antara Korea Utara dan AS yang telah terhenti sejak runtuhnya KTT di Hanoi. Gerakan terbaru Korea Utara ditafsirkan sebagai komitmennya untuk tidak keluar dari jalur dialog nuklir dengan AS. Pyongyang berupaya menyampaikan ketidaksenangannya atas posisi AS, yang telah meningkatkan tekanan pada Korea Utara, dan mendesak AS untuk menerima permintaannya demi proses denuklirisasi bertahap. Dengan kata lain, Korea Utara telah menggunakan provokasi berkekuatan rendah yang diperhitungkan secara cermat, sembari tetap menjaga momentum pembicaraannya dengan AS.


Tidak pasti apakah Korea Utara akan memberikan tanggapan positif mengenai bantuan pangan, karena apa yang sebenarnya diinginkannya oleh Korea Utara kemungkinan adalah pelonggaran sanksi. Namun masih harus diperhatikan apakah tawaran untuk bantuan kemanusiaan untuk Korea Utara dapat mengarah pada terobosan besar dalam melanjutkan negosiasi Korea Utara dan AS serta dialog antar-Korea.

Pilihan Editor