Pergi ke Menu Pergi ke Halaman Utama

Korea Utara : AS Harus Ubah Perhitungannya Secepat Mungkin

#Ulasan Hari Ini l 2019-06-05

Warta Berita

ⓒYONHAP News

Gerakan Korea Utara (Korut) sedang diperhatikan menjelang peringatan satu tahun KTT Korut dan Amerika Serikat (AS) di Singapura. 'Tokoh-tokoh' Korut yang menyembunyikan diri setelah kegagalan KTT Korut-AS kedua di Hanoi, mulai menampilkan dirinya kembali secara  berturut-turut. Korut melalui wacana Juru Bicara Kementerian Luar Negerinya mendesak AS mengubah sikapnya. Hal ini dapat ditafsirkan bahwa Korut memastikan pihaknya tidak akan mengubah sikap awalnya. Di sisi lain, negara komunis itu memperlihatkan tekadnya untuk melakukan dialog dengan AS.


Wacana Kementerian Luar Negeri merupakan cara dengan tingkat tertinggi untuk mengemukakan sikap pemerintah untuk luar negeri atas persoalan yang dihadapinya. Dalam menyampaikan sikap pemerintah, Korut biasanya lebih sering menggunakan media pro-Korut di dalam maupun luar negeri. Selain itu, melalui Komite Perdamaian Asia Pasifik yang merupakan organisasi sipil di bawah naungan Partai Buruh. Untuk menyampaikan pendapat resmi pemerintah, Korut memakai format tanya jawab wartawan Kantor Pusat Berita Korea Utara (KCNA). Oleh sebab itu, Wacana Kementerian Luar Negeri bersifat lebih resmi daripada format tanya jawab wartawan.


Dapat dikatakan, wacana Kementerian Luar Negeri Korut terkait peringatan satu tahun KTT Korut-AS tersebut sebenarnya adalah pesan resmi untuk AS. Intinya kegagalan KTT Korut-AS yang kedua dikarenakan permintaan AS untuk menyerahan nuklir terlebih dahulu dirasa terlalu sepihak. Korut terus meminta AS untuk membatalkan permintaan penyerahan nuklir terlebih dahulu dan mengubah kebijakan bermusuhan dengan Korut. Artinya, Korut mempertahankan sikapnya untuk melaksanakan denuklirisasi bertahap dan meminta pelonggaran sanksi terhadapnya.


Sementara itu, kembalinya tokoh-tokoh yang berperan dalam KTT di Hanoi, seperti Kim Yong-chol, Kim Hyok-chol, dan Kim Yo-jong menjadi perhatian. Mereka tidak menampilkan diri pada acara resmi setelah KTT Korut-AS yang kedua, hingga muncul desas-desus mereka telah dibersihkan.


Media massa di dalam maupun luar Korsel memberitakan bahwa mereka telah dipecat dan otoritas intelijen pun mengatakan hal yang serupa. Pejabat senior dan mantan utusan khusus nuklir Korea Utara Kim Yong-chol diberitakan telah dikirim ke sebuah kamp tahanan politik dalam sebuah pembersihan politik besar-besaran. Namun, Kim kembali muncul mendapingi Kim Jong-un dalam acara resmi pada tanggal 2 dan 3 Juni.


Kim Yo-jong, adik perempuan Kim Jong-un juga muncul dalam acara resmi pada tanggal 3 Juni. Dia sebelumnya diduga diperintahkan untuk merunduk dari politik. Perwakilan Khusus Korea Utara untuk AS Kim Hyok-chol yang dikabarkan telah dibunuh pun diketahui masih hidup. Namun, CNN memberitakan Kim Hyok-chol sedang diperiksa dalam tahanan. Selain ketiga orang itu, pejabat-pejabat lain yang terlibat dalam KTT Korut-AS di Hanoi diketahui dalam keadaan selamat.


Meskipun demikian, mempertimbangkan sistem di Korut, sejumlah pejabat tersebut diperkirakan mendapat sanksi walau tidak dipecat.

 

Sehubungan dengan itu, para pakar memandang gerakan Korut tersebut merupakan proses untuk menganalisis penyebab gagalnya KTT Korut-AS dan mengatur kembali strateginya. Selain itu, pihaknya kembali  mengemukakan tekad Korut untuk meneruskan dialog sambil mempertahankan sikapnya.

Pilihan Editor