Pergi ke Menu Pergi ke Halaman Utama

Korsel dan Inggris Tandatangani FTA untuk Hadapi Brexit

#Ulasan Hari Ini l 2019-06-10

Warta Berita

ⓒKBS News

Penandatanganan Perjanjian Perdagangan Bebas (FTA) antara Korea Selatan dan Inggris adalah langkah aman untuk menghadapi ‘No Deal Brexit’ yang berarti Inggris menarik diri dari Uni Eropa tanpa kesepakatan apapun. Apabila Brexit dilaksanakan, Inggris tidak perlu mengikuti peraturan Uni Eropa dan kehilangan keuntungan sebagai negara anggota Uni Eropa. Setelah itu, urusan perdagangan Inggris akan diberlakukan di bawah kerangka Organisasi Perdagangan Dunia (WTO).


Pada awalnya, Uni Eropa dan Inggris menetapkan waktu pelaksanaan Brexit pada tanggal 29 Maret 2019, dan memberi waktu perahlian selama 21 bulan hingga akhir tahun 2020 mendatang. Selama masa transisi tersebut, Inggris tidak hadir di proses penentuan keputusan terkait Uni Eropa, namun tetap dapat menikmati manfaat sebagai negara anggota Uni Eropa.


Namun, isi kesepakatan Brexit mengalami kesulitan karena tidak diloloskan di parlemen Inggris, dan hal tersebut membuat Perdana Menteri Inggris Theresa May mengundurkan diri. Selain itu, hari pelaksanaan Brexit telah ditunda sebanyak dua kali hingga tanggal 31 Oktober mendatang.


Sementara itu, mantan Menteri Luar Negeri Boris Johnson yang diperkirakan akan terpilih sebagai Perdana Menteri berikutnya, menyikapi pelaksanaan Brexit dengan tegas. Karena itu, apabila dia terpilih sebagai Perdana Menteri pernyataan pemerintah Inggris juga diperkirakan akan menjadi lebih keras dan kuat. Johnson pernah mengatakan Inggris akan melepaskan diri dari Uni Eropa pada tanggal 31 Oktober terlepas dari adanya kesepakatan atau tidak. Pernyataan itu membesarkan kemungkinan dimana Brexit berakhir tanpa kesepakatan menjadi nyata.


Inggris merupakan negara perdagangan terbesar kedua di Uni Eropa bagi Korea Selatan, setelah Jerman. Saat ini, urusan perdagangan dengan Inggris diterapkan melalui FTA antara Uni Eropa dan Korea Selatan karena Inggris masih negara anggota Uni Eropa. Ketika Brexit tanpa kesepakatan terlaksana, maka manfaat non-tarif dari FTA dihapus, sehingga Korea Selatan menerima dampak besar. Untuk mencegah hal tersebut, Korea Selatan menandatangani FTA dengan Inggris secara terpisah.


Penandatanganan kali ini dilaksanakan sebagai perjanjian sementara menghadapi Brexit karena Inggris belum keluar dari Uni Eropa. Dengan kata lain, FTA tersebut difokuskan agar hubungan perdagangan antara Korea Selatan dan Inggris tetap berjalan seperi halnya dalam FTA antara Korea Selatan dan Uni Eropa pada saat ini.


Ada tiga skenario yang dapat diramalkan terkait Brexit, yaitu Brexit tanpa kesepakatan, pencapaian kesepakatan, dan perpanjangan waktu pemberlakuan Brexit. Apabila Brexit berakhir tanpa kesepakatan, FTA antara Korea Selatan dan Inggris harus diloloskan di dalam parlemen hingga tanggal 31 Oktober mendatang. Kalau hal tersebut tidak dilaksanakan, maka produk ekspor Korea Selatan ke Inggris termasuk barang pabrik, mobil, dan lainnya harus dikenakan tarif 10%. Selain itu, perjanjian kali ini menyediakan landasan untuk negosiasi FTA dengan tingkat yang lebih tinggi setelah Brexit. Setelah dua tahun diberlakukannya perjanjian, mereka akan meninjau ulang dan melalukan negosiasi di tingkat yang lebih tinggi daripada yang sudah ada. Langkah tersebut disediakan untuk menghadapi situasi apapun yang dapat terjadi terkait Brexit.

Pilihan Editor