Pergi ke Menu Pergi ke Halaman Utama

Pemangkasan Prediksi Pertumbuhan Ekonomi Korsel

#Isu Sepekan l 2019-07-06

Warta Berita

ⓒYONHAP News

Pemerintah Korea Selatan (Korsel) memprediksi pertumbuhan ekonomi Korsel di tahun 2019 di kisaran 2,4-2,5% dalam 'Arah Kebijakan Ekonomi Semester II 2019' yang diumumkan pada tanggal 3 Juli lalu. Angka prediksi itu diturunkan sebanyak 0,2% poin dari prediksi sebelumnya. Dibandingkan pertumbuhan ekonomi tahun 2018, prediksi pertumbuhan terbaru itu menurun sebesar 0,2-0,3 persen poin yang artinya, ekonomi Korea mengalami kemunduran.


Pemerintah Korea Selatan menurunkan prediksi konsumsi dan investasi untuk tahun 2019. Pertumbuhan konsumsi pribadi diprediksi menjadi 2,4%, dipangkas 0,3% poin dibandingkan sebelumnya. Investasi fasilitas juga diprediksi menurun sebanyak 4,0%, sedangkan investasi konstruksi diperkirakan menurun 2,8%.


Ekspor diperkirakan menurun sebanyak 5,0% dibandingkan tahun lalu. Pada akhir tahun lalu ekspor diprediksi meningkat 3,1% tetapi cenderung berkurang selama 7 bulan terakhir dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Impor juga diprediksi menurun 4,1%. Prediksi impor pada akhir tahun lalu meningkat 4,2%. Akan tetapi, prediksi perekrutan ditingkatkan karena efek dari kebijakan untuk penciptaan peluang kerja. Jumlah peningkatan pekerja baru tahun ini mencapai 200 ribu orang, lebih banyak 50 ribu orang dibandingkan prediksi sebelumnya. Jumlah peningkatan pekerja baru lebih dari dua kali lipat dari prestasi tahun lalu yang mencatat 97 ribu orang.


Unsur utama penurunan prediksi pertumbuhan ekonomi tersebut adalah lemahnya ekspor, konflik dagang antara Amerika Serikat dan China, serta buruknya kondisi bisnis semikonduktor yang berlangsung cukup lama.


AS dan China adalah negara ekspor terbesar bagi Korsel. China khususnya mengimpor produk setengah jadi dari Korsel kemudian mengekspor barang jadi dari produk setengah jadi yang diimpor itu ke AS. Dalam struktur seperti itu, ekspor Korsel terpaksa terkena dampaknya. Pada KTT AS dan China di sela-sela KTT G20 bulan lalu, kedua pihak telah menyepakati gencatan perang dagang untuk sementara, tetapi kondisinya masih mengkhawatirkan.


Sebagai tambahan, sektor semikonduktor yang menduduki 20% dari seluruh ekspor Korsel sedang dalam keadaan memprihatinkan. Kemerosotan pasar semikonduktor yang berlangsung lama dan penurunan harganya turut memperburuk hasil ekspornya. Dalam kondisi buruk seperti ini, ekspor Korsel menurun selama 7 bulan berturut-turut dan investasi juga ikut menurun sejak kuartal kedua tahun lalu.


Oleh karena itu, pemerintah Korsel membuat kebijakan ekonomi yang berfokus pada ekspansi investasi. Untuk menarik investasi perusahaan, pemerintah akan memperluas kemudahan perpajakan. Dalam langkah yang sama, pemerintah Korsel mempercepat proses pemberian izin usaha sehingga memungkinkan investasi senilai 10 triliun won ke atas untuk proyek umum dan sipil dalam semester kedua tahun ini.


Meskipun demikian, ada yang memberikan kritik negatif karena  kemudahan perpajakan yang hanya diperpanjang masanya tersebut dirasa tidak dapat menjadi umpan yang sesuai untuk menarik investasi perusahaan.  Selain itu, ada pihak yang mengatakan prediksi pertumbuhan baru pun tidak mudah dicapai karena ada banyak halangan dari luar negeri, termasuk pembatasan ekspor Jepang ke Korsel.

Pilihan Editor