Pergi ke Menu Pergi ke Halaman Utama

AS Tetapkan China sebagai Manipulator Mata Uang, Harga Saham New York dan Eropa Anjlok Bersama

#Ulasan Hari Ini l 2019-08-06

Warta Berita

ⓒYONHAP News

Perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China tampaknya sudah berkembang menjadi perang mata uang. Diperkirakan pula bahwa jika konflik kedua negara itu akan memanas, perekonomian global ikut merosot dengan cepat. Tentunya ekonomi Korea Selatan yang saat ini juga sedang menghadapi berbagai risiko eksternal, bisa terkena pukulan yang lebih serius lagi.


Langkah AS untuk menetapkan China sebagai manipulator mata uang muncul tepat setelah Beijing mengumumkan penghentian pembelian produk pertanian AS. Sebelumnya, AS menyatakan akan memberlakukan tarif tambahan 10% bagi impor China senilai 300 miliar dolar Amerika pada tanggal 1 September. AS dan China saling menanggapi balasan dengan balasan, dan akhirnya AS menetapkan China sebagai manipulator mata uang. Langkah AS tersebut menyusul pelemahan yuan hingga ke level tujuh yuan per satu dolar Amerika dalam 11 tahun sejak bulan Mei 2008. Ada yang berspekulasi bahwa pihak China sengaja membiarkan yuan melemah untuk menggunakan kurs mata uangnya sebagai pembalasan terhadap tarif tambahan dari AS. Setelah menentukan suatu negara sebagai manipulator, Kementerian Keuangan AS diharuskan untuk meminta perbaikan terhadap mata uang yang dihargai dibawah nilai sebenarnya dan surplus perdagangan yang berlebihan. Jika perubahan terhadap nilai mata uang tidak dilakukan, negara manipulator dapat diterapkan sanksi terkait investasi perusahaan AS, pembatasan pengadaan pemerintah Washington dan pengawasan dari Dana Moneter Internasional.


Dalam situasi tersebut, munculnya dua kekhawatiran, seperti dampak buruk pada ekonomi global dan kemungkinan meningkatnya penetapan negara manipulator mata uang. Melemahnya nilai mata uang meningkatkan daya saing ekspor. AS menganggapnya sebagai subsidi ekspor, sehingga mendorong langkah untuk mengenakan tarif penyeimbang. AS sudah meningkatkan hambatan tarif tinggi pada China. Perselisihan antara dua ekonomi terbesar di dunia ini, pasti akan memiliki imbas negatif yang luar biasa pada ekonomi global. Jika perang dagang terus dilanjutkan, maka ekonomi global diperkirakan akan merosot dalam tiga triwulan ke depan. Hambatan tarif AS atas China sudah memperlambat perdagangan global. Terlebih hambatan tarif terhadap China, setara dengan hambatan tarif pada Korea Selatan. Korea Selatan mengekspor banyak barang setengah jadi ke China, dan China membuatnya menjadi barang jadi yang diekspor ke AS. Kemerosotan ekspor China ke AS sangat berkaitan dengan merosotnya ekspor Korea Selatan ke China.


Selain itu, fokus saat ini juga berada pada langkah tambahan AS untuk menetapkan negara manipulator mata uang. Menurut laporan Kementerian Keuangan AS pada bulan Mei, Korea Selatan sudah masuk dalam daftar negara yang diamati sebagai manipulator mata uang, bersama delapan negara lainnya, termasuk China dan Jerman. Presiden AS Donald Trump memiliki dugaan atas manipulasi mata uang terhadap kebijakan keuangan dari negara mitranya. Artinya, penuruan suku bunga acuan dan pelonggaran kuantitatif bisa kapan saja dicap sebagai tindakan manipulasi mata uang. Dalam hal ini, para pengamat menggambarkan bahwa perang dingin baru di pasar mata uang global sudah dimulai.


Korea Selatan tengah menderita banyak beban akibat penurunan ekspor, kemerosotan pertumbuhan dan bahkan konflik antara Korea Selatan dan Jepang. Terlebih perselisihan perdagangan antara AS dan China sudah berdampak negatif pada pertumbuhan ekonomi lokal. Jika perang mata uang global memanas, ekonomi Korea Selatan dipastikan akan lebih sulit lagi. Pemerintah Seoul menyatakan akan mengambil tanggapan yang agresif atas ketidakpastian pasar yang berlebihan. Mengenai kekhawatiran atas penetapan Korea Selatan sebagai manipulator mata uang, dikatakannya bahwa menurut laporan sebelumnya, AS menilai Korea Selatan tidak terlibat dalam manipulasi mata uangnya dan tanggapan serupa tetap dilanjutkan.

Pilihan Editor