Pergi ke Menu Pergi ke Halaman Utama

Perang Nilai Tukar Mata Uang Antara AS dan China

#Isu Bisnis l 2019-08-12

Dunia Bisnis

© YONHAP News

Konflik antara Amerika Serikat (AS) dan China semakin besar. Pada tanggal 2 Agustus waktu setempat, AS mempublikasikan pengenaan bea masuk tambahan terhadap produk impor China. Sebagai bentuk protesnya, China mengumumkan penghentian pembelian hasil pertanian AS pada tanggal 5 Agustus lalu. Pada tanggal 4 Agustus, nilai yuan melewati batas 7 per satu dolar Amerika, sehingga AS menetapkan China sebagai negara manipulator mata uang. 


Harga saham New York yang menurun secara drastis berpengaruh pada harga saham di Eropa dan Asia. Namun, yang serius adalah perang nilai tukar mata uang antara AS dan China yang baru dimulai. Apabila nilai yuan turun, daya saing produk China hidup kembali, sehingga bisa memecahkan masalah terkait pengenaan bea masuk oleh AS. Namun, jika nilai yuan turun secara drastis, juga ada penarikan modal asing di dalam China. Oleh sebab itu, banyak yang menganalisis bahwa otoritas keuangan China mengambil tindakan tepat untuk mengontrol nilai tukar mata uang, namun langkah China saat ini bisa meningkatkan tekanan pemerintah AS. Perang nilai tukar mata uang serupa dapat menyebar ke seluruh dunia. 


AS mengetatkan pengawasan terkait manipulasi nilai tukar mata uang. AS mengubah standar penetapan negara yang memasukkan daftar pengawasan nilai tukar mata uang pada bulan Mei lalu dari yang sebelumnya 12 negara mitra perdagangan dengan AS, menjadi negara yang memiliki volume impor dan ekspor terhadap AS mencapai 40 miliar dolar Amerika. Akibatnya, jumlah negara yang mendapat pengawasan terkait manipulasi nilai tukar mata uang bertambah menjadi 21 negara. Korea Selatan juga pernah ditunjuk sebagai negara manipulator mata uang, sehingga Korea Selatan perlu mengawasi perkembangan situasinya.


Wall Street Journal memilih Korea Selatan sebagai negara yang mengalami kerugian akibat perang nilai tukar mata uang antara AS dan China. Korea Selatan melakukan perdagangan dengan China dalam lingkup yang luas, dan perusahaan Korea Selatan memiliki utang besar dalam bentuk dolar. Karena itu, kekuatannya sangat melemah dalam hal perang nilai tukar mata uang antara AS dan China. 


Selain langkah balasan ekonomi Jepang, perang perdagangan antara AS dan China semakin menyulitkan kondisi ekonomi Korea Selatan. Berdasarkan pemahaman mendalam atas situasi saat ini, pemerintah harus menyediakan langkah yang bijaksana dan berani.

Pilihan Editor