Pergi ke Menu Pergi ke Halaman Utama

Moon Desak Jepang untuk Berdialog dan Bekerja Sama

#Ulasan Hari Ini l 2019-08-15

Warta Berita

ⓒ KBS News


Melalui pidato untuk upacara menandani peringatan Hari Kemerdekaan Korea yang ke-74, Presiden Korea Selatan Moon Jae-in memastikan ‘dua jalur’ tanggapannya untuk menangulangi pembatasan perdagangan Jepang terhadap Korea Selatan. Dengan kata lain, dia berniat untuk menyelesaikan isu tersebut dengan tanggapan yang tegas, namun tetap melalui dialog. 


Pidato Presiden Moon mendapat sorotan dalam hal perhitungan arah tanggapan pemerintah Korea Selatan untuk melawan Jepang kedepannya. Jika Korea Selatan hanya merilis langkah yang sangat keras terhadap Jepang, tidak dapat dipungkiri bahwa konflik kedua negara akan lebih memanas dan berkepanjangan. Namun dalam pidato presiden untuk merayakan hari Kemerdekaan Korea kali ini, terdapat upaya untuk mengatasi aksi Jepang namun tidak terlihat adanya ungkapan ‘anti-Jepang’ sehingga kritikannya dianggap rasional dan berkepala dingin. Tidak ada pernyataan terkait masalah sejarah masa lalu, seperti kompensasi Jepang bagi korban kerja paksa di masa perang, yang akhir-akhir ini memicu konflik perdagangan antara Korea Selatan dan Jepang. Sebagai gantinya Presiden Moon menyinggung ‘dialog’, ‘kerja sama’ dan ‘hubungan yang berorientasi masa depan’. 


Moon menghimbau pentingnya hubungan antara Korea Selatan dan Jepang yang berorientasi masa depan, dengan mengutip bahwa “Untuk merefleksikan masa lalu bukanlah untuk berpegang teguh pada masa lalu, tetapi untuk melewati masa lalu dan menuju masa depan." Ia menambahkan, bahwa Korea Selatan bersedia untuk bergandengan tangan jika Jepang memilih jalur dialog dan kerja sama. Presiden Moon juga berharap agar di Olimpiade Tokyo akan terwujud persahabatan dan perdamaian. Akhir-akhir ini, muncul tuntutan untuk memboikot Olimpiade Tokyo dengan tim Korea Selatan tidak berpartisipasi. Meskipun demikian, Moon berkomitmen bahwa pesta olahraga sedunia di Tokyo yang akan datang tersebut harus dibuat sebagai batu loncatan demi meningkatkan persahabatan dan kerja sama bilateral. 


Bersamaan dengan itu, Presiden Moon memperingatkan segala bentuk tanggapan yang dilaksanakan secara emosional. Dia menegaskan masyarakat perlu kesadaran tinggi agar tidak menghancurkan hubungan persahabatan antara masyarakat kedua negara. Tetapi dalam pidatonya, pesan untuk mengatasi Jepang ditegaskan lewat kata kunci, ‘negara yang tidak goyah oleh kekuatan luar’. Artinya bertepatan dengan kasus saat ini, basis ekonomi akan diperbarui sehingga menjadi kekuatan ekonomi, dan dapat mendahului Jepang. Sebenarnya upaya serupa adalah solusi yang mendasar dan berkepanjangan. Moon juga menyarankan visinya seperti ‘negara ekonomi kuat yang bertanggung jawab’ untuk bergerak menuju perdamaian dan unifikasi dengan mengatasi pembagian negara. 


Isi pidato Presiden Moon yang sudah disesuaikan nadanya tersebut, dipandang berdasarkan keputusan realistis yang mengarah pada kasus terakhir. Sebelumnya dalam rapat sekretaris senior dan penasihat presiden pada tanggal 8 Agustus lalu, Moon pernah menyebut kasus kali ini sebagai situasi tanpa kemenangan yang bahkan membahayakan semua peserta dalam ekonomi global, termasuk Jepang sendiri. Dia dengan jelas kembali memastikan bahwa langkah Jepang tidak adil, dan juga menghimbau penyelesaiannya lewat solusi diplomatik. 


Dengan ditegaskannya dialog dan kerja sama dalam pidato Presiden Moon, ‘bola’ kini berada di pihak Jepang. Di dalam negeri Jepang pun, muncul berbagai pertimbangan kembali seperti nominasi Duta Besar Jepang untuk Korea Selatan yang baru dan pelaksanaan reformasi kabinet Jepang. Kedua negara tampaknya membuat fase dan suasana menuju dialog secara perlahan. Ketegangan antara Korea Selatan dan Jepang memang hampir berada di persimpangan, untuk menemukan terobosan dalam perselisihan kedua negara.  

Pilihan Editor