Pergi ke Menu Pergi ke Halaman Utama

Korut Tidak Berniat untuk Negosiasi dengan AS Sebelum Kebijakan Bermusuhan Sepenuhnya Dicabut

#Ulasan Hari Ini l 2019-10-07

Warta Berita

ⓒKBS News

Kegagalan negosiasi tingkat kerja di Swedia dapat dikatakan akibat dari kekurangan kepercayaan dan juga merupakan batasan dalam cara bernegosiasi ‘top-down’. Belum dipastikan apa yang dibahas oleh kedua belah pihak dan mengapa negosiasi itu berakhir dengan kegagalan. Amerika Serikat (AS) mengklaim bahwa mereka membawa ‘ide kreatif’ untuk pertemuan tersebut, dan Korea Utara mengkriitk bahwa AS tidak membuang ‘sikap yang telah ada di masa lalu’. ‘Ide kreatif’ ditafsirkan sebagai langkah denuklirisasi yang diusulkan oleh AS, dan ‘sikap yang telah ada di masa lalu’ berarti masalah terkait sanksi terhadap Korea Utara. Akhirnya, AS tetap menuntut langkah denuklirisasi Korea Utara dengan menjaga sikap sebelumnya, yakni ‘penghapusan sanksi setelah denuklirisasi’. Ide kreatif oleh AS barangkali menjadi cara pemecahan masalah nuklir secara bertahap, dari yang sebelumnya cara ‘big deal’ atau kesepakatan besar.


Korea Utara telah mengambil langkah denuklirisasi seperti pembongkaran fasilitas nuklir. AS juga memperkecil volume pelaksanaan latihan militer gabungan antara Korea Selatan dan AS. Akibatnya, dua pihak masing-masing mengklaim bahwa mereka telah mengambil langkah-langkah yang diperlukan, dan saling mengkritik satu sama lain akibat langkah yang tidak memuaskan bagi mereka.


Pada akhirnya, kepercayaan antara kedua belah pihak sangat dibutuhkan dalam negosiasi. Dari sisi itu, keduanya tidak membuat kemajuan dalam masalah ini. Ketidakpercayaan antara Korea Utara dan AS sudah mempunyai sejarah yang lama akibat Perang Korea dan kondisi Semenanjung Korea yang masih berada dalam gencatan senjata. Namun, dengan Kesepakatan Jenewa antara Korea Utara dan AS pada tahun 1994 lalu, hubungan kedua negara kelihatannya dapat membaik. Kesepakatan Jenewa berisi bahwa dunia internasional menyediakan minyak berat dan reaktor air ringan kepada Korea Utara untuk mengembangkan energi melalui nuklir, serta Korea Utara menghentikan pengembangan senjata nuklir. Namun, Korea Utara tetap melanjutkan pengembangan senjata nuklir secara diam-diam sambil menerima penyediaan minyak berat dan pembangunan reaktor air ringan. Oleh sebab itu, AS memiliki tekad kuat untuk tidak kembali gagal layaknya Kesepakatan Jenewa, melalui negosiasi kali ini. Langkah AS yang mengusulkan ‘pencabutan sanksi setelah denuklirisasi’ dikeluarkan berdasarkan ketidakpercayaan terkait pengalaman Kesepakatan Jenewa. Sementara itu, Korea Utara khawatir akan runtuhnya rezim mereka setelah membuang senjata nuklir. Korea Utara juga tidak ingin menjalankan proses runtuhnya rezim Muammar Khadafi di Libya.


Cara negosiasi yang disediakan untuk memecahkan ketidakpercayaan antara kedua belah pihak dan menyediakan titik tolak baru adalah ‘top-down’. Pada tahun lalu, Presiden Amerika Serikat, Donald Trump dan Pemimpin Korea Utara, Kim Jong-un berhasil mencapai kesepakatan besar di KTT Singapura. Namun, kesepakatan besar itu hanya sekedar tercantum di dalam pernyataan, dan langkah-langkah selanjutnya tidak berjalan dengan baik. Dengan kata lain, ketidakpercayaan antara kedua negara tidak berhasil dipecahkan melalui pertemuan antara pemimpin dua negara, karena ketidakpercayaan yang terasa sangat dalam. Akibatnya, banyak pihak yang merasa skeptis pada cara negosiasi ‘top-down’.

Pilihan Editor