Pergi ke Menu Pergi ke Halaman Utama

Proyektil yang Diluncurkan Korea Utara Baru-baru Ini Dinilai sebagai Rudal Balistik

#Ulasan Hari Ini l 2019-11-07

Warta Berita

ⓒKBS News

Muncul berbagai spekulasi terkait roket multi laras super besar yang diluncurkan oleh Korea Utara pada akhir bulan lalu. Otoritas intelijen pertahanan Korea Selatan telah menyimpulkan bahwa roket itu adalah rudal balistik. Di sisi lain, perhatian juga tertuju pada potensi Korea Utara untuk peluncuran rudal balistik jarak jauh antar-benua (ICBM) dengan kendaraan peluncur (TEL), dan peluncuran rudal berbahan bakar padat.


Pertama-tama, proyektil itu dipertanyakan kelengkapannya sebagai roket multi laras, sementara ada analisis bahwa proyektil itu dapat mencegat sasaran dengan sistem pertahanan anti rudal. Para pakar luar negeri merilis analisis tersebut, berdasakan interval waktu antar peluncuran. Roket multi laras yang terbukti kemampuannya, mampu ditembakan secara terus-menerus dengan kecepatan setiap 20-30 detik, namun Korea Utara meluncurkan dua proyektil setiap tiga menit. Dapat dikatakan bahwa interval waktu penembakan itu diatur lebih lama untuk mengurangi kemungkinan gagal, atau tidak berfungsinya dalam proses peluncuran. Para pakar AS dan Jerman pun mengangkat kemungkinan rudal balistik, karena terdeteksi ciri khas rudal balistik dalam hal jarak, kecepatan dan ketinggian penerbangan proyektil itu. Bagian itu setara dengan penilaian otoritas militer Korea Selatan.


Otoritas intelijen pertahanan Korea Selatan melaporkan di hadapan parlemen bahwa Korea Utara tengah dengan cepat bergerak menuju rudal berbahan bakar padat. Disebutkan pula bahwa sebanyak 11–12 rudal telah dilakukan uji coba dengan menggunakan bahan bakar padat, yang memang lebih sulit untuk mendeteksinya lebih awal, karena tidak dibutuhkan waktu untuk mengisi bahan bakar, berbeda dengan bahan bakar cair.


Perdebatan yang paling sengit adalah kemampuan Korea Utara dalam meluncurkan rudal balistik jarak jauh antar-benua (ICBM) dengan kendaraan peluncur (TEL). Ketua badan intelijen pertahanan di Kementerian Pertahanan Korea Selatan, Kim Yong-hwan memperkirakan bahwa Korea Utara belum sepenuhnya sanggup meluncurkan ICBM dengan TEL. Dia menerangkan bahwa Korea Utara mencoba  menembakkan ICBM dengan kendaraan peluncur itu, namun gagal karena ada masalah. Ketua Kim tidak menyinggung jenis rudal yang gagal ketika diluncurkan dengan TEL, namun ia percaya ada satu lagi peluncuran rudal balistik jarak menengah (IRBM) dengan TEL oleh Korea Utara.


Memang benar, pernyataan Kim tersebut menimbulkan kontroversi karena berbeda dengan pernyataan yang dikeluarkan di hadapan parlemen bulan lalu. Pada saat itu, dia menerangkan bahwa Korea Utara dianggap sudah bergerak maju ke tahap yang memungkinkan untuk meluncurkan ICBM dengan TEL. Dalam hal ini, Kementerian Pertahanan Korea Selatan menaggapi bahwa pernyataan Kim tersebut merupakan penialaiannya terhadap potensi pengembangan teknis militer Korea Utara. Artinya, Korea Utara hanya menggunakan fungsi pembawa dan pengangkat dalam sistem peluncuran ICBM dengan TEL, sedangkan masih belum mampu menggunakan fungsi peluncur. Dengan demikian, negaranya meluncurkan rudal dari peluncur di darat, setelah rudal dibawa dengan TEL lalu dipindahkan dari kendaraan peluncur tersebut.


Namun para pengamat menunjukkan bahwa ancaman semakin meningkat, meskipun teknologi untuk peluncuran ICBM dengan TEL belum sempurna. Karena waktu yang dibutuhkan untuk peluncuran rudal telah diperpendek secara drastis hanya dengan menggunakan cara yang memungkinkan saat ini. Demikian ke depannya akan lebih sulit untuk mendeteksi dan mencegat rudal tersebut. Sehubungan dengan hal itu, ketua Kim menyebutkan jika Korea Selatan ke depannya dilengkapi dengan lima satelit pengintai, maka kemampuan deteksi dan identifikasi rudal akan sangat meningkat.

Pilihan Editor