Pergi ke Menu Pergi ke Halaman Utama

Pertemuan Pemimpin Korsel dan Jepang dan Masa Depan Hubungan Kedua Negara

#Isu Sepekan l 2019-11-09

Warta Berita

ⓒYONHAP News

Presiden Korea Selatan (Korsel), Moon Jae-in dan Perdana Menteri Jepang, Shinzo Abe mengadakan pertemuan selama 11 menit sebelum KTT ASEAN Plus Three di Thailand pada tanggal 4 November lalu. Pertemuan Moon dan Abe ini dilakukan untuk pertama kalinya dalam 13 bulan sejak KTT di sela-sela Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di New York pada bulan September tahun lalu.


Juru Bicara Kantor Kepresidenan Korea Selatan Cheongwadae, Ko Min-jung menyatakan bahwa pertemuan pemimpin Korsel dan Jepang itu diadakan secara mendadak, tidak dijadwalkan sebelumnya. Ko menjelaskan bahwa dalam pertemuan itu, kedua pemimpin negara bersepaham bahwa hubungan bilateral sangatlah penting dan segala masalah yang dihadapi kedua negara harus diselesaikan melalui dialog.


Menurut Jubir Ko, Moon dalam kesempatan tersebut mengusulkan untuk mengadakan pertemuan tingkat tinggi jika diperlukan. Sementara Abe membalas bahwa kedua pihak harus berusaha untuk menemukan solusi dengan menggunakan segala sarana.


Pertemuan Moon dan Abe tersebut dapat dilaksanakan ketika Moon mengajak Abe duduk di sebelahnya. Pertemuan Moon dan Abe itu dimungkinkan karena kedua pihak berpendapat sama dalam menemukan solusi untuk hubungan bilateral melalui dialog. Moon ingin menemukan solusi diplomatik sebelum Perjanjian Perlindungan Informasi Militer (GSOMIA) antara Korsel dan Jepang berakhir pada tanggal 23 November. Sebelumnya, Moon dan Abe bertukar surat dan membuat suasana untuk berdialog. Moon menitip suratnya untuk Abe saat Perdana Menteri Korsel, Lee Nak-yon berkunjung ke Jepang untuk menghadiri upacara penobatan kaisar Jepang pada tanggal 24 Oktober lalu. Sementara Abe mengirim ucapan bela sungkawa atas kepergian ibunda Moon.


Selama ini, Korsel dan Jepang berseteru karena keputusan Mahkamah Agung Korsel terkait kompensasi pekerja paksa dan pembatasan ekspor Jepang terhadap Korsel sebagai tindak balasannya. Oleh karena itu, pertemuan Moon dan Abe, walaupun singkat, diharapkan dapat memecahkan konflik tersebut.


Sementara itu, Ketua Majelis Nasional Korsel, Moon Hee-sang mengusulkan langkah untuk menyelesaikan masalah kompensasi pekerja paksa dan wanita perbudakan syahwat dengan cara membuat peraturan terkait dan mengumpulkan dana dari perusahaan dan masyarakat dari masing-masing negara. Pihak Jepang memang tidak menyetujui usulan tersebut.


Mengenai pertemuan pemimpin negara Korsel dan Jepang tersebut, media Jepang memberi makna bahwa kedua pihak mengonfirmasi pentingnya hubungan bilateral dan tekad untuk meneruskan pembicaraan. Akan tetapi, mengenai kompensasi pekerja paksa, media Jepang menyampaikan bahwa Abe mengemukakan pendapat pemerintah Jepang yang tetap tidak akan berubah dan tidak menerima usulan Ketua Majelis Nasional Korsel.


Meskipun demikian, pertemuan Moon dan Abe diperkirakan merupakan suatu langkah yang penting demi perkembangan hubungan bilateral kedua negara.

Pilihan Editor