Pergi ke Menu Pergi ke Halaman Utama

Pertumbuhan Korsel Kuartal Ketiga 2019 Catat 0,4%, Deflator PDB Sentuh Level Terendah dalam 20 Tahun Terakhir

#Ulasan Hari Ini l 2019-12-03

Warta Berita

ⓒKBS News

Ada dua jenis produk domestik bruto (PDB) yang dirilis yakni berdasarkan triwulan dan tahunan. PDB triwulanan diumumkan lewat perhitungan awal dan perhitungan sementara, sedangkan PDB tahunan dirilis dengan perhitungan sementara dan perhitungan final. Tingkat pertumbuhan ekonomi pada perhitungan awal untuk kuartal ketiga tahun ini dibukukan pada 0,4 persen, sama dengan tingkat perhitungan sementara. Bisa dikatakan bahwa pertumbuhan ekonomi dipertahankan pada jalur yang konstan tanpa adanya perubahan besar atau fluktuasi yang dramatis. Tentunya ada beberapa rincian yang berbeda. Investasi konstruksi direvisi mencatat minus 0,8 persen poin, sementara konsumsi pribadi naik 0,1 persen poin dan total volume ekspor juga naik 0,5 persen poin. Pendapatan nasional bruto (PNB) periode bulan Juli-September 2019 tumbuh 0,6 persen dibandingkan kuartal sebelumnya, dan 0,4 persen dari periode yang sama tahun lalu.


Deflator PDB berada di minus 1,6 persen pada kuartal ketiga tahun ini. Rekor minus serupa terus berlanjut selama empat kuartal berturut-turut sejak triwulan keempat tahun lalu. Deflator PDB merujuk pada ukuran yang mewakili indikator makro-ekonomi dengan tingkat harga keseluruhan dalam suatu ekonomi seperti barang dan jasa. Sebaliknya, indeks harga konsumen hanya mengukur harga barang yang dekat dengan konsumen.


Berdasarkan rincian kategori, deflator harga ekspor berdampak signifikan pada jatuhnya deflator PDB. Tingkat pertumbuhan deflator permintaan domestik naik menjadi 1 persen, namun mengalami penurunan dari kuartal kedua sebelumnya yang sempat mencapai 1,7 persen. Tingkat pertumbuhan deflator ekspor tercatat minus 6,7 persen, sementara tingkat pertumbuhan deflator impor sebesar 0,1 persen. Bank Sentral Korea (BOK) mengatakan bahwa harga unit ekspor semikonduktor dan produk kimia banyak berpengaruh pada pertumbuhan tersebut. BOK memperjelas bahwa meskipun deflator permintaan lokal merosot, namun penurunan deflator PDB tidak secara langsung menyebabkan jatuh pada inflasi domestik.


Kini perhatian tertuju pada tingkat pertumbuhan ekonomi sebesar 2,0 persen tahun ini, yang sejalan dengan pencapaian perhitungan sementara untuk kuartal ketiga tahun ini sebesar 0,4 persen. Dalam revisi proyeksi pertumbuhan ekonomi pada tanggal 29 November lalu, BOK telah mengumumkan proyeksi pertumbuhan tahun ini dan tahun depan masing-masing di angka 2,0 persen dan 2,3 persen. Proyeksi tersebut telah diturunkan masing-masing 0,2 persen poin dari perkiraan yang sebelumnya diumumkan pada bulan Juli lalu. Revisi proyeksi tersebut menimbulkan perseteruan karena dirasa terlalu optimis. Untuk membuat pertumbuhan 2,0 persen, maka tingkat pertumbuhan pada kuartal keempat tahun ini harus berada pada angka 1,0 persen dibandingkan kuartal sebelumnya. Dikatakan sulit untuk mencetak pencapaian dramatis seperti itu, karena perubahan kondisi internal dan eksternal mungkin tidak akan besar.


Pada kenyataannya, indeks ekonomi terkait produksi, investasi dan konsumen Korea Selatan pada bulan Oktober lalu semuanya mencatat minus. Khususnya penjualan ritel turun sebesar 0,5 persen pada bulan Oktober, setelah sebelumnya minus 2,3 persen pada bulan September. Ini juga menunjukkan bahwa ekspansi pengeluaran pemerintah tidak berdampak besar pada resesi domestik. Akibatnya, risiko tren penurunan kemungkinan akan berlanjut pada tahun depan.

Pilihan Editor