Pergi ke Menu Pergi ke Halaman Utama

Hewan Peliharaan di Korea Utara

#Mengenal Korea Utara l 2020-05-14

Selangkah Satu Korea

ⓒ Getty Images Bank

Di Korea Selatan, sekitar 25 persen rumah tangga memelihara hewan peliharaan, dengan jumlah pemilik hewan peliharaan menembus 10 juta orang. Pasar perawatan hewan peliharaan juga berkembang pesat, sementara pemerintah dan organisasi masyarakat juga berupaya untuk membuat budaya baru, di mana orang dan hewan peliharaan dapat menciptakan hidup yang penuh harmoni. Nah, bagaimana dengan situasi di Korea Utara? Hari ini, kita akan belajar tentang “hewan pendamping” di Korea Utara, bersama dengan Profesor Chung Eun-chan di Lembaga Pendidikan Unifikasi. 


Istilah "hewan pendamping" yang digunakan untuk menyebut hewan peliharaan di Korea Selatan memang terdengar asing bagi rakyat Korea Utara. Penyusutan ekonomi yang ekstrem mendorong munculnya pasar swasta, di mana individu dapat mengumpulkan kekayaan di negara komunis. Beberapa orang yang bergabung ke dalam kelas kaya baru memelihara anjing peliharaan, meskipun hanya sedikit orang yang sanggup memiliki hewan peliharaan itu. Pada umumnya, Korea Utara menggunakan hewan peliharaan sebagai salah satu subjek utama untuk mengkritik kapitalisme. Banyak pemilik hewan peliharaan di Korea Selatan mengenakan pakaian imut pada anjing peliharaan mereka, mengeluarkan cukup banyak uang untuk hewan peliharaan mereka dan bahkan menganggapnya sebagai anggota keluarga mereka. Tetapi media utama Korea Utara selalu menggambarkan praktik ini sebagai bagian dari budaya kapitalis yang dekaden (데까덴). Meskipun demikian, tampaknya situasinya di Korea Utara kini telah perlahan berubah karena beberapa penduduk setempat memelihara anjing sebagai hewan peliharaan. 


Di Korea Utara, tidak ada kata yang merujuk pada "hewan pendamping." Tetapi kata "hewan peliharaan" memang ada. Hewan pendamping biasanya dianggap sebagai hewan pendukung yang hidup dengan manusia sebagai “sahabat”. Di sisi lain, tampaknya "hewan peliharaan" dipandang oleh Korea Utara sebagai hewan milik manusia, yang dapat diperlakukan atau dikendalikan sesuka mereka. Ungkapan "hewan peliharaan" muncul di Korea Utara pada akhir tahun 1980-an, ketika orang-orang kelas atas, seperti pejabat Partai Buruh Korea, mulai memiliki anjing sebagai hewan peliharaan. Pada akhir tahun 1990-an, toko-toko dengan transaksi mata uang asing di Pyongyang mulai menjual jenis anjing kecil. Majalah Korea Utara, Chollima juga mengabarkan bahwa anjing dapat mendukung manusia secara emosional, dan mantan pemimpin Korea Utara, Kim Jong-il pernah merekomendasikan warganya untuk memelihara anjing peliharaan. Sejak itu, jumlah pemilik hewan peliharaan mulai meningkat di Korea Utara. Profesor Chung menjelaskan siapa yang lebih suka memelihara hewan peliharaan di Korea Utara.


Pertama, orang sakit atau penyandang disabilitas biasanya hidup dengan anjing peliharaan yang memberikan dukungan sosial dan emosional. Kedua, orang kelas atas atau orang kaya baru yang muncul setelah kesulitan ekonomi pada tahun 1990-an. Mereka telah menerima budaya asing untuk dapat memiliki anjing peliharaan. Meskipun hewan peliharaan tidak disebut "hewan pendamping," namun hewan peliharaan itu sudah mulai diperdagangkan di toko-toko yang melakukan transaksi dengan mata uang asing di wilayah setempat. Mereka percaya bahwa berjalan-jalan bersama anjing yang baik membuat mereka terlihat seperti orang-orang kelas atas. Menurut seorang pembelot Korea Utara yang pernah bekerja di bidang kedokteran hewan di negara komunis itu, seekor anak anjing Pungsan (풍산) dihargai 30 hingga 40 dolar AS, bahkan harga untuk jenis anjing ras terbaik bisa mencapai 100 dolar AS. Itu merupakan jumlah uang yang mengejutkan bagi pekerja umum di Korea Utara. Namun, beberapa orang sepertinya memilih untuk memelihara hewan peliharaan, yang menunjukkan bahwa budaya hewan peliharaan sudah mulai tumbuh di Korea Utara. 


Sementara beberapa keluarga memelihara anjing peliharaan, sebagian besar petani di Korea Utara diharuskan memelihara ternak yang didistribusikan oleh pihak berwenang. Hanya peternakan yang dikelola pemerintah dan peternakan kolektif yang bisa memiliki ternak, dan peternakan itu mendistribusikan ternak kepada petani lokal yang harus menghasilkan sejumlah daging. Untuk tujuan itu, keluarga petani lebih suka memelihara babi, kelinci, domba atau kambing, daripada anjing atau kucing. Menurut sebuah laporan yang dirilis oleh Pusat Penelitian untuk Industri Peternakan Korea Utara di Universitas Konkuk, Korea Selatan pada tahun 2018, ada 3 juta ekor kelinci di Korea Utara pada tahun 1995, tetapi jumlahnya naik menjadi 30 juta pada tahun 2017. Laporan itu juga mengatakan bahwa Korea Selatan memiliki sapi, babi, dan ayam empat hingga enam kali lebih banyak daripada Korea Utara, tetapi Korea Utara memiliki kelinci 80 kali lebih banyak daripada Korea Selatan. Kelinci memang merupakan ternak yang produktif dalam bereproduksi dan kelinci hanya makan rumput untuk tumbuh dengan cepat. Hewan pemakan tumbuhan sangat membantu untuk menuntaskan masalah makanan tanpa biaya besar.


Korea Selatan dan Korea Utara sebelumnya pernah terlibat dalam pertukaran ternak, meskipun saat ini pertukaran itu telah ditangguhkan. Misalnya dalam proyek kerja sama pemeliharaan babi, peternakan babi dibangun di tiga wilayah di sekitar Gunung Geumgangsan, Korea Utara sejak tahun 2005 dan tim gabungan kedua Korea diluncurkan untuk mengelola proyek tersebut. 


Pada tanggal 7 April 2006, sebelas anak babi lahir di sebuah peternakan babi di Kabupaten Goseong (고성) dekat Gunung Geumgangsan di Korea Utara. Babi itu adalah hasil dari pengembangbiakan babi yang disumbangkan oleh perusahaan Korea Selatan bernama Darby Genetics ke Korea Utara pada Oktober 2005 lalu. Yang menarik, babi-babi yang dikirim dari Korea Selatan disebut "babi pembelot" oleh Korea Utara. Pada bulan September 2008, ada 240 ekor anak babi, dan jumlah babi dewasa naik menjadi 27 ekor. Selain tiga peternakan babi di daerah Gunung Geumgangsan, peternakan babi lainnya juga didirikan di kota Gaeseong, Korea Utara. KTT Antar-Korea kedua berlangsung pada Oktober 2007, ketika Presiden Korea Selatan, Roh Moo-hyun mengunjungi Pyongyang. Sebagai bagian dari langkah-langkah lanjutan, kedua Korea sepakat untuk bersama-sama membangun dan mengoperasikan peternakan babi yang akan menampung sekitar 5.000 ekor babi di Pyongyang. Keduanya mengadakan tiga putaran pembicaraan tingkat kerja untuk membahas masalah ini. Jadi kita sebelumnya telah melihat pertukaran antar-Korea di bidang pemeliharaan babi.


Sayangnya, proyek yang telah disepakati ditunda, karena hubungan antar-Korea menjadi buruk. Saat ini, Korea Selatan bahkan tidak tahu apakah peternakan babi di area Gunung Geumgangsan masih dioperasikan dengan baik. Diharapkan agar terobosan dapat ditemukan dalam pertukaran antar-Korea dengan cepat, sehingga kedua Korea dapat melanjutkan kerja sama bilateral dalam pemeliharaan ternak dan juga mendorong budaya pemeliharaan hewan peliharaan bersama-sama.

Pilihan Editor

Close

Situs kami menggunakan cookie dan teknologi lainnya untuk memberikan Anda layanan yang lebih baik. Dengan terus menggunakan situs ini, Anda menyetujui penggunaan teknologi ini dan kebijakan kami. Detail >