Pergi ke Menu Pergi ke Halaman Utama
Go Top

Manmubang – Kim Yu-jeong

#Sudut Sastra Korea l 2022-11-18

Sudut Sastra Korea

ⓒ Getty Images Bank

Setelah meninggalkan rumah mereka, Eung-chil dan keluarganya hidup dengan meminta-minta makan di jalanan. Saat semakin kesulitan meminta-minta, mereka pun akhirnya berpisah dan mencari jalan masing-masing untuk bertahan hidup. Tidak memiliki tempat untuk menetap, Eung-chil memilih hidup sebagai seorang kriminal. Ia empat kali masuk keluar penjara atas perbuatan mencuri dan berjudi.  


Eung-chil tidak memiliki rumah, tanah, atau pun keluarga. Ia hidup terlunta-lunta hingga akhirnya, satu bulan yang lalu, ia singgah di desa tempat adiknya, Eung-oh, tinggal. Saat berjumpa, keduanya sangat gembira karena akhirnya dapat saling melepas rindu dengan satu-satunya anggota keluarga mereka yang tersisa. Namun, kondisi hidup Eung-oh pun tidak jauh lebih baik dari Eung-chil.    


- Cuplikan program:



Eung-oh adalah seorang petani yang jujur. Di usianya yang telah menginjak 31 tahun, warga desa menilainya sebagai pemuda yang teladan. Namun, Eung-oh tidak memanen padinya. Padahal, pemilik sawah, serta Bapak Kim, yang telah memberikan pinjaman kepada Eung-oh, selalu mendesaknya untuk segera memanen padinya.


“Istriku sedang sekarat, untuk apa aku memanen padi?”    

Istri Eung-oh sedang sakit parah, namun ia tidak mampu membeli obat untuk istrinya. Seharusnya itu menjadi alasan yang lebih kuat agar Eung-oh segera memanen padinya. Namun, mengapa ia tidak melakukannya?


Eung-oh tentu akan bahagia memanen padi dari sawah yang telah ia garap selama setahun penuh. Namun, tahun lalu, setelah membayar biaya sewa lahan dan bunganya dengan beras, beserta biaya pupuknya, yang tersisa bagi Eung-oh hanyalah keringat yang telah mengering di punggungnya. Eung-oh tidak merasa sedih, ia lebih merasa malu. Sangat memalukan baginya untuk pulang ke rumah mendorong gerobak kosong, sementara rekannya yang turut memanen padi bersamanya menyaksikannya pulang dengan tangan kosong. Ia berusaha menahan tangisnya hingga ia tidak kuat lagi.


응오는 진실한 농군이었다.

나이 서른하나로 무던히 철났다하고 동리에서 쳐주는 모범 청년이었다.

그런데 벼를 베지 않는 것이다.

지주든 혹은 그에게 장리를 놓은 김참판이든 뻔질 찾아와 벼를 베라 독촉하였다.


“계집이 죽게 됐는데 벼는 다 뭐지유” 


응오의 아내가 지금 사정이매 틈은 없었다 하더라도 

돈이 놀아서 약을 못 쓰는 이판이니 벼라도 털어야 할 것이다.

그러면 왜 안 털었던가....


한 해 동안 알뜰히 가꾸던

그 벼를 걷어 들임은 기쁨에 틀림없었다.

그러나 지주에게 도지를 제하고, 장리쌀을 제하고, 색초를 제하고 보니

남는 것은 등줄기를 흐르는 식은땀이 있을 따름.

그것은 슬프다 하기보다 끝없이 부끄러웠다.

같이 털어주던 동무들이 뻔히 보고 섰는데

빈 지게로 덜렁거리며 집으로 돌아오는 건 진정 열적기 짝이 없는 노릇이었다.

참다 참다 응오는 눈에 눈물이 흘렀던 것이다.



Di masa penjajahan Jepang banyak lahan dan sawah yang dirampas oleh pemerintah Jepang, sehingga para petani di Korea terpaksa harus bekerja dengan menyewa lahan dengan harga yang mahal. Terkadang, mereka harus mencuri hasil tani mereka sendiri atau mengambil risiko dengan berjudi agar dapat membayar hutang dan bertahan hidup. Dalam cerita ini, baik Eung-chil dan Eung-oh adalah “manbubang,” orang-orang yang telah putus asa dan kehilangan prinsip. Namun dalam kenyataannya, di masa itu semua petani Korea dianggap sebagai para “manmubang” yang menjalani hidup hari demi hari tanpa harapan akan masa depan yang cerah.



Eung-oh tersungkur di tanah. Eung-chil kembali memukulinya, di bagian lutut dan punggungnya. Eung-chil memukulinya cukup kencang hingga Eung-oh tidak dapat berdiri. Ia terus memukuli Eung-oh hingga ia terbaring lemah sambil menangis. 


Eung-chil memukuli Eung-oh karena marah, namun melihat lengan adiknya yang lebam, Eung-chil merasa kasihan. 


Eung-chil meludah dan berkata, “Ini ganjaran untuk orang yang tidak beruntung dalam hidup.”


Ia lalu menggendong sang adik di punggungnya.

“Suatu saat kamu pasti akan mengerti...” pikir Eung-chil sambil menghembuskan napas panjang. Dengan tenang, ia berjalan menuruni bukit.


대뜸 몽둥이는 들어가 그 볼기짝을 후려갈겼다.


아우는 모로 몸을 꺾더니 시나브로 찌그러진다.

뒤미처 앞 정강이를 때렸다.

등을 팼다.

일어나지 못할 만큼 매는 내렸다.

체면을 불구하고 땅에 엎드려 엉엉 울도록 매는 내렸다.


홧김에 하긴 했으되 그 팔을 보니 또한 마음이 편할 수 없다.


침을 퉤, 뱉어 던지곤 팔자 드센 놈이 그저 그러지 별수 있냐.

쓰러진 아우를 일으켜 등에 업고 일어섰다.

언제나 철이 날는지 딱한 일이다.

속 썩는 한숨을 후- 하고 내뿜는다.

그리고 어청어청 고개를 묵묵히 내려온다.




Kim Yu-jeong (11 Januari 1908 – 29 Januari 1937)

    - lahir di kota Chuncheon, Propinsi Gangwon

    - debut: cerita pendek “Hujan Lebat” (1933)

Pilihan Editor

Close

Situs kami menggunakan cookie dan teknologi lainnya untuk memberikan Anda layanan yang lebih baik. Dengan terus menggunakan situs ini, Anda menyetujui penggunaan teknologi ini dan kebijakan kami. Detail >