Pergi ke Menu Pergi ke Halaman Utama
Go Top

Sisi yang Berseberangan – Kim Ae-ran

#Sudut Sastra Korea l 2022-01-21

Sudut Sastra Korea

ⓒ Getty Images Bank

Dohwa menatap ke arah kaki Isu yang menongol keluar dari selimut. Dulu Dohwa sering mengecup punggung kaki itu sebelum ia berangkat bekerja. Satu tangan menggenggam kaki itu, dan satunya lagi mengelus-elus jemari kakinya yang berbulu itu, lalu menutupinya dengan selimut. 

Dohwa cukup lama menatap kaki kekasihnya itu, kaki yang telah berjalan bersamanya menuju banyak tempat. Namun pada akhirnya, ia tidak melakukan apa-apa dan berpaling.



- Cuplikan program: 


Yang paling sulit bagi Isu adalah menyaksikan Dohwa tumbuh menjadi dewasa sendiri. Cara berbicaranya, ekspresi wajahnya, minatnya... Dunia Dohwa semakin luas dan semakin kuat mendorong Isu keluar. Ia pun kesulitan untuk bertahan.

Apalagi dengan pekerjaannya Dohwa adalah penduduk yang mendapatkan pengakuan dari negara, warga negara yang mendapat jaminan dari negara. Sementara Isu, ia bukan mahasiswa dan bukan pekerja. Ia adalah warga negara dengan status yang tidak jelas. 


이수는 무엇보다도 도화가 혼자 어른이 돼가는 과정을

지켜보는 일이 힘들었다.

도화의 말투와 표정, 화제가 점점 변하는 걸,

도화의 세계가 커지는 걸,

그 확장의 힘이 자신을 밀어내는 걸 견디기 어려웠다.


더구나 도화는 국가가 인증한 시민,

국가가 보증하는 국민이었다.

반면 이수는 학생도, 직장인도 아닌 애매한 국민이었다.



Dua karakter dalam cerpen ini terasa sangat nyata karena dalam realitas kehidupan kita, jarang sekali kita temukan manusia yang benar-benar suci ataupun yang benar-benar jahat. Manusia pada umumnya mencoba meraih impian, harapan dan kenyamanan masing-masing sambil mempertahankan simpati, namun terkadang memiliki penyesalan di saat yang bersamaan. Dohwa pun demikian. Ia ingin berpisah dengan kekasihnya Isu, namun di saat yang bersamaan merasa kasihan padanya. Dan itulah yang sering di rasakan oleh seseorang saat menjalani sebuah hubungan.    



Tangan Isu yang sedang mengangkat gelas itu sedikit bergetar. Semakin malam, rumah makan itu semakin penuh oleh pengunjung di setiap sudut. Di antara ratusan orang yang berusaha berbicara di atas kebisingan itu, hanya dua orang saja yang duduk tanpa mengucapkan sepatah kata, Isu dan Dohwa.


Di saat itulah Dohwa sadar, bahwa apa yang dirasakannya saat bertemu dengan sang pemilik rumah bukanlah perasaan dikhianati, melainkan perasaan lega. Seakan-akan selama ini ia selalu berharap dan menunggu datangnya hari di saat Isu membuat kesalahan besar. 


Tetapi sekarang... ke manakah Isu pergi?

Beberapa hari yang telah terlewati itu menyangkut di lehernya, dan ia pun menelannya kembali dengan air liurnya yang mengering.    


잔을 쥔 이수의 손이 가늘게 떨렸다.

식당 안으론 시간이 지날수록 꾸역꾸역 사람이 더 모여들었다.

수백 명이 왕왕거리는 어느 횟집에서,

모두가 소리 높여 떠드는 가운데 

아무 말도 하지 않는 사람은 이수와 도화, 둘 뿐이었다.


도화는 어제 저녁 집주인을 만난 뒤

자신이 느낀 게 배신감이 아니라 안도감이었다는 걸 깨달았다.

마치 오래전부터 이수 쪽에서 먼저

큰 잘못을 저질러주길 간절히 바라오기라도 한 사람처럼.


그런데 이수는 이제 어디로 갈까?


도화가 목울대에 걸린 지난 시절을 간신히 누르며

마른 침을 삼켰다.




Pengarang Kim Ae-ran (lahir di Incheon, 15 Agustus 1980)

    - Debut: 2002 – Cerpen “Pintu Rumah yang Tidak Diketuk”

Pilihan Editor

Close

Situs kami menggunakan cookie dan teknologi lainnya untuk memberikan Anda layanan yang lebih baik. Dengan terus menggunakan situs ini, Anda menyetujui penggunaan teknologi ini dan kebijakan kami. Detail >