Pergi ke Menu Pergi ke Halaman Utama
Go Top

Hotel Luar Angkasa – Yoo Sun-hui

#Sudut Sastra Korea l 2022-07-22

Sudut Sastra Korea

ⓒ Getty Images Bank

Ia mencari-cari di permukaan tanah, mencari kertas. Kertas kecil yang sangat ringan pun terasa berat di mata sang nenek. Karena itu ia membungkukkan punggungnya semakin datar dan mengunci pandangannya ke tanah. Semakin lama, ia semakin jarang melihat ke angkasa, hingga suatu hari, ia pun lupa seperti apa rupa langit, dan bagaimana awan-awan bergerak.


- Cuplikan program:



Hari itu Mei membawa sebuah buku gambar. Sang nenek takjub melihat gambar di dalamnya. Bumi dengan bentuk bundaran yang sedikit berlekuk, planet Saturnus dengan cincinnya yang cantik, planet Jupiter yang besar dengan warga coklat terang menyerupai warna kulit dan matahari dengan sinar merah yang mencuat. Sebuah pesawat luar angkasa berbentuk jamur mengelilingi planet-planet itu.


“Kapan, ya, aku terakhir kali melihat ke angkasa? Kapan terakhir kali aku melihatbintang? Kalau bulan...”    


Sambil bergumam, sang nenek mendongakkan kepalanya dan melihat ke langit. Langit itu mendung, berwarna kelabu.


그 날은 메이가 다 쓴 스케치북을 가져왔는데요,

할머니는 그림을 보다가 탄성을 질렀습니다.


약간 찌그러진 둥그스름한 지구에

아름다운 테를 두른 토성,

몸빛이 황갈색으로 빛나는 울퉁불퉁한 목성,

붉은 빛이 뿜어져 나오는 태양,

그리고 그 주위를 돌고 있는 버섯 모양의 우주선까지

찬란하게 아름다운 우주의 모습이었습니다.


“하늘은 본 게 언제였더라? 별을 본 게 언제였지? 달을 본 건...” 


할머니는 중얼거리며 하늘을 올려다 보았습니다.

하늘은 비가 올 듯 회색빛이었습니다.        



Setelah menjalani hidup yang panjang dan penuh tantangan bekerja sebagai pemungut kertas yang selalu menundukkan kepalanya, sang  nenek merasa lelah. Namun, gambar langit, bulan, dan luar angkasa yang dilukis melalui imajinasi anak kecil itu memberikan inspirasi bagi sang nenek untuk kembali melihat ke langit. Adegan inilah yang membuat cerita pendek ini sangat spesial. Di jaman yang modern dan serba sibuk seperti sekarang, kita jarang memperhatikan langit. Melihat pemandangan di langit dapat memberikan kita persepsi yang berbeda akan hidup. Kita dapat membayangkan kehidupan kita di dunia apabila dilihat dari angkasa dan merenungkan apa makna hidup kita ini.



Musim datang dan pergi silih berganti. Sang nenek masih tetap mengumpulkan sampah kertas.


Namun, kini ia tidak lagi sendirian. Ia didampingi oleh sahabatnya, sang nenek dengan benjolan di matanya. Setiap malam, mereka selalu menyantap makan malam yang hangat dan meminum teh jahe bersama.


Terkadang, saat melihat gambar luar angkasa yang tertempel di temboknya, sang nenek berpikir.


“Apakah mungkin rumahku ini adalah hotel luar angkasa? Tempat ini juga menjadi tempat persinggahan setelah pergi berjelajah. Ya, kita tepat berada di tengah luar angkasa.”


여러 계절이 왔다가 가고, 다시 왔다가 갔단다.

종이 할머니는 여전히 폐지를 모았어.  

그렇지만 이제는 혼자가 아니야.  

눈에 혹이 난 할머니와 같이 주웠어.  

그리고 저녁이 되면 따뜻한 밥도 같이 먹고, 생강차도 나누어 마셨지.


종이 할머니는 벽에 붙여 놓은 우주 그림을 보며, 

잠깐잠깐 이런 생각에 빠졌단다.


‘여기가 우주 호텔이 아닌가?  

 여행을 하다가 잠시 이렇게 쉬어 가는 곳이니...

 여기가 바로 우주의 한 가운데지 




Yoo Sun-hui (lahir di Seoul tahun 1969)

    - Debut: Novel anak “Rumah Sunhui” (2006)

Pilihan Editor

Close

Situs kami menggunakan cookie dan teknologi lainnya untuk memberikan Anda layanan yang lebih baik. Dengan terus menggunakan situs ini, Anda menyetujui penggunaan teknologi ini dan kebijakan kami. Detail >