Pergi ke Menu Pergi ke Halaman Utama

Budaya

"Kertas Jenggot Putih" oleh Ha Geun-chan

#Sudut Sastra Korea l 2020-09-22

Sudut Sastra Korea

ⓒ Getty Images Bank

Cuplikan program:


“Eh?”

Apakah yang terjadi? Mata Dong-gil terbelalak lebar dan mulutnya terperanga. Dengan tangannya yang bergemetar, dia mengangkat salah satu lengan baju sang ayah. Kosong. Lengan baju itu kosong.

“Ibu! Satu lengan ayah tidak ada. Lengan ayah, satu lengan ayah hilang!”

Sambil mendesah, ibu Dong-gil masuk ke dalam dapur membawa adonan tepung. Sang ibu sedang menyobek-nyobek adonan tepung itu untuk dijadikan sup sujebi.


“에?” 

이게 웬일일까?

동길이는 두 눈이 휘둥그레지고, 입이 딱 벌어졌다.

떨리는 손으로 한 쪽 소맷부리를 들추어 보았다.

없다. 분명히 없다.

“어무이, 아버지 팔 하나 없다. 팔 하나 없어, 팔!”

어머니는 한 숨을 쉬면서 함지박을 들고 부엌으로 들어갔다.

밀가루 수제비를 뜨는 것이었다.



Walaupun cerpen “Jenggot Kertas Putih” menceritakan tentang tantangan hidup setelah perang, cerita ini tidak seluruhnya sedih. Pembaca juga dapat merasakan keteguhan masyarakat di masa itu saat dihadapkan dengan kenyataan yang sulit. Setelah kehilangan lengan kanannya dalam perang, tentunya tidak mudah mencari pekerjaan bagi penderita difable seperti ayah Dong-gil. Tetapi dia tidak putus semangat dan berhasil mencari pekerjaan lain, mempromosikan bioskop, dengan mengenakan kostum dan riasan wajah yang lucu. Bagi banyak orang, itu adalah sebuah pekerjaan yang memalukan, dan sudah pasti ayah Dong-gil merasakan hal yang sama. Karena itulah ayah Dong-gil tertawa, lalu menangis. Perasaannya antara gembira dapat kembali menghidupi keluarganya, dan malu akan pekerjaan barunya yang begitu jauh dari pekerjaan lamanya. 



“Ah, ah… Malam ini… Ah, ah… Gambar hidup malam ini akan menayangkan seorang pria gagah dengan pistol kembar. Silakan datang! Silakan datang ramai-ramai!”

Mungkin merasa malu, pria itu langsung menjauhkan pengeras suara itu dari mulutnya. Anak-anak pun turut berteriak mengikutinya. Dong-gil turut bergembira, hatinya berdebar-debar.

Pandangan pria aneh yang sedang menggenggam pengeras suaranya dan Dong-gil bertemu. Dia sedikit tersentak, lalu memalingkan wajahnya dari Dong-gil.

Hidung Dong-gil pun memerah dan air mata mulai menggenang di kelopak matanya. 


“아아 쌍권총을 든 사나이,

 아아, 오늘 밤의 활동사진은 쌍권총을 든 사나이, 

 많이 구경 오이소! 많이 많이 구경 오이소!”

메카폰을 든 그 희한한 사람의 시선이

동길이의 시선과 마주쳤다.

순간, 동길이의 가슴이 철렁 내려앉고 말았다.

뒤통수를 야물게 한 대 얻어맞은 것 같았다.

그리고 눈물이 핑 돌았다.

그 희한한 사람이 바로 아버지였던 것이다.

아버지는 동길이와 눈이 마주치자 약간 멋쩍은 듯했다.

그러고는 얼른 시선을 돌려 버리는 것이었다.

동길이는 코끝이 매워오며 뿌옇게 눈앞이 흐려져 갔다.




Penulis Ha Geun-chan (Yeongcheon, Propinsi Gyeongsang Utara, 1931 - 25 Nopember 2007):

1957 - debut dengan cerpen "Penderitaan Dua Generasi" terbitan Harian Hangook Ilbo

1998 - meraih Medali Kehormatan Bidang Budaya Korea

Pilihan Editor

Close

Situs kami menggunakan cookie dan teknologi lainnya untuk memberikan Anda layanan yang lebih baik. Dengan terus menggunakan situs ini, Anda menyetujui penggunaan teknologi ini dan kebijakan kami. Detail >