Pergi ke Menu Pergi ke Halaman Utama

Budaya

“Tidur Bersama Buku-buku” oleh Lee Seung-woo

#Sudut Sastra Korea l 2020-12-01

Sudut Sastra Korea

ⓒ Getty Images Bank

Cuplikan program:


Buku-buku itu tertumpuk dari lantai hingga plafon bagaikan menara. Ada lebih dari satu menara buku. Sepertinya ada delapan atau sembilan, atau bahkan lebih dari sepuluh menara serupa. Menara-menara dari buku, atau buku-buku yang menjadi menara menutupi buku-buku lainnya.

Pria dalam artikel itu sedang berbaring meringkuk di ruang sempit antara menara-menara tersebut, lututnya tertekuk hingga ke dadanya. Posisinya mirip dengan posisi bayi yang ada dalam kandungan ibu.

Artikel surat kabar itu menuliskan bahwa identitas pria itu tidak diketahui. Jika demikian, berarti dia tidak meninggalkan petunjuk jati dirinya.


마치 탑을 쌓아올린 것처럼

바닥에서 천장까지 책들이 포개져 있었다.

문제의 남자는 책으로 쌓아올린 그 여러 개의 탑들 사이

비좁은 공간에 다리를 가슴까지 바싹 끌어당기고

웅크린 자세로 누워있었다.

그 모습은 언뜻 모체 밖으로 나오기 전의

태아를 연상하게 했다.


신문에는 신원을 알 수 없는 남자라는 표현이 나왔다.

자신의 신분에 대한 어떤 단서도 남기지 않았다는 것이다.



Sebenarnya apakah hubungan mereka, dan mengapa dia meninggal di tengah tumpukan buku-buku seperti itu?



Aku cukup lama menatap foto jenazah pria itu. Buku-buku dalam foto itu mulai terlihat bagaikan artefak yang dikuburkan di dalam makam bersama pria itu. Kupikir, memang tidak ada artefak lain yang lebih cocok dikubur bersamanya selain buku-buku itu. Hatiku semakin terharu melihat sebuah kematian yang tepat menggambarkan kehidupan pria itu.

Tetapi, entah mengapa, aku berpikir tidak benar apabila identitasnya yang tidak diketahui itu dibiarkan begitu saja. Dipenuhi oleh rasa tanggung jawab, tanpa ragu-ragu aku menelepon kantor polisi untuk memberitahukan siapa dirinya


나는 그 사람의 시신을 오래 들여다보았다.

그러자 사진 속의 책들이 그와 함께 무덤에 매장된 부장품처럼 보였다. 

나는 그 사람에게 책보다 더 잘 어울리는 부장품은 없을 거라는 생각을 했다.

자신의 삶과 가장 어울리는 그의 죽음의 모습은

감동스럽기까지 했다.


왜 그런지 그를 신원불명자로 내버려두는 건

옳은 일은 아닌 것 같았다.

나는 그 사람에 대해 진술해야 한다는 의무감에 사로잡혔고,

별로 망설이지 않고 이내 경찰서에 전화를 걸었다.



Tokoh Jeong-tae dalam cerpen ini menyerupai sebuah buku. Pekerjaannya adalah membuat buletin untuk para karyawan perusahaan. Tetapi kini pekerjaan itu sudah tidak diperlukan lagi, dan akhirnya dia dikirim ke kantor cabang daerah. Dia pun sering bertengkar dengan istrinya, yang jauh lebih cekatan darinya dalam beradaptasi dengan perubahan jaman. Perbedaan antara keduanya akhirnya menyebabkan perceraian. Jeong-tae percaya buku masih masih memiliki pengaruh yang luar biasa pada dunia, dan dia ingin mempertahankan pandangan yang mulai menghilang di tengah masyarakat modern tersebut. Jeong-tae tidak sanggup mengikuti jaman yang begitu cepat berubah.




Penulis Lee Seung-woo (lahir 1959 di Jangheung, Propinsi Jeolla Selatan)

1981 – debut sebagai pemenang penulis pendatang baru Hanguk Munhak melalui cerpen “Patung Erysichthon”

1991 - meraih Penghargaan Sastra Yi Sang ke-15

Pilihan Editor

Close

Situs kami menggunakan cookie dan teknologi lainnya untuk memberikan Anda layanan yang lebih baik. Dengan terus menggunakan situs ini, Anda menyetujui penggunaan teknologi ini dan kebijakan kami. Detail >