Pergi ke Menu Pergi ke Halaman Utama
Go Top

Kumpulan Isu

Suku Bunga Acuan AS Kembali Lebih Tinggi Dibandingkan Korsel

#Isu Sepekan l 2022-09-24

Warta Berita

ⓒYONHAP News

Bank sentral Amerika Serikat (AS), atau The Fed, pada Rabu (21/09) mengumumkan kenaikan suku bunga acuan sebesar 0,75 persen poin. Dengan demikian, suku bungan acuan AS berada di kisaran 3 persen hingga 3,25 persen, dari sebelumnya 2,25 persen hingga 2,50 persen.


The Fed sebelumnya telah menaikkan suku bunga acuan sebesar 0,25 persen poin pada bulan Maret setelah dua tahun membekukan suku bungan acuan pada awal pandemi COVID-19. Kemudian, pihaknya telah lima kali menaikkan suku bunga acuan termasuk kenaikan kali ini. Terlebih lagi, The Fed mengambil 'langkah raksasa' pada tiga keputusan kenaikan terakhir, yaitu dengan secara sekaligus menaikkan suku bunga acuan sebesar 0,75 persen poin. Kini, suku bunga acuan AS berada di titik tertinggi dalam 14 tahun 8 bulan sejak Januari 2008.


The Fed mengambil langkah peningkatan suku bunga guna menekan kenaikan harga barang yang semakin serius. Inflasi sempat naik hingga 9,1 persen pada Juni, namun kemudian telah menurun ke 8,5 persen pada Juli dan diperkirakan akan terus mengalami penurunan. Namun demikian, dianalisis kondisi riil lebih serius daripada perkiraan. Sejak pengumuman laporan harga konsumen bulan Agustus pada 13 September, pasar telah memprediksi The Fed akan mengambil langkah raksasa kali ini.


Dengan demikian, saat ini suku bunga acuan AS lebih tinggi daripada suku bunga acuan Korea Selatan. Di tengah kondisi ini, dikhawatirkan modal akan keluar dari Korea Selatan, sebagaimana obligasi dan dolar AS menjadi aset yang aman. Faktanya, setelah kenaikan suku bunga acuan AS, di pasar valuta asing Korea Selatan pada Kamis (22/09), nilai tukar won melemah 3,8 won dibandingkan perdagangan sehari sebelumnya, dibuka di 1.398 won per dolar AS, kemudian naik melampaui 1.400 won.


Menguatnya nilai dolar AS berpengaruh buruk terhadap ekspor Korea Selatan. Pengetatan likuiditas bank sentral yang intensif berdampak negatif terhadap ekspor Korea yang sensitif akan kondisi ekonomi eksternal, seperti meningkatnya kemungkinan perlambatan ekonomi AS. Ditambah dengan naiknya nilai tukar won terhadap dolar AS, maka daya saing harga produk Korea Selatan akan melemah dan mendorong kenaikan harga barang di dalam negeri. 


Oleh sebab itu, Bank Sentral Korea (BOK) perlu menaikkan suku bunga acuan untuk mempertahankan nilai tukar won dan menstabilkan harga barang. Kenaikan suku bunga di tengah tren kenaikan harga barang akan mendorong berkurangnya konsumsi, termasuk konsumsi rumah tangga dan investasi perusahaan. 


Meskipun pemerintah berencana untuk mengambil tanggapan cepat dan tegas untuk mempertahankan nilai tukar won, tetapi diperkirakan efeknya akan terbatas dan kenaikan suku bunga acuan tidak dapat dihindari. Oleh sebab itu, diperkirakan ekonomi Korea Selatan akan menghadapi kesulitan lebih lanjut.

Pilihan Editor

Close

Situs kami menggunakan cookie dan teknologi lainnya untuk memberikan Anda layanan yang lebih baik. Dengan terus menggunakan situs ini, Anda menyetujui penggunaan teknologi ini dan kebijakan kami. Detail >