Pergi ke Menu Pergi ke Halaman Utama
Go Top

Gaya Hidup

Green Survival

2019-01-21

Annyeonghasimnika, Inilah Seoul

© Getty Images Bank

Baru-baru ini masyarakat Korea sangat terpengaruh dengan debu halus. Meskipun sekarang sedikit berkurang, tapi debu halus rupanya telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Korea baru-baru ini. Malah, debu halus menjadi masalah lingkungan yang paling dicemaskan masyarakat Korea.


Selain soal debu halus, masih banyak masalah lingkungan yang kini kita hadapi di berbagai tempat. Anda juga pernah mendengar berita tentang kura-kura laut mati yang hidungnya tersumbat dengan sedotan yang dibuang manusia, dan juga sampah plastik yang ditemukan di dalam perut paus yang mati. 


Sepertinya, lingkungan hidup kita kini terancam sehingga perhatian masyarakat dunia mendatangkan beberapa upaya untuk menjaga dan melindungi tempat tinggal kita dari berbagai pencemaran.


Mempertimbangkan kondisi baik dalam maupun luar negeri seperti itu, tidak aneh jika isu terkait lingkungan terpilih sebagai salah satu tren masyarakat Korea untuk tahun ini.


Tren baru itu adalah ‘Green Survival’ dan istilah Korea-nya adalah ‘Pil Hwangyeong’ artinya ‘lingkungan yang dibutuhkan’. Maksudnya, pikiran dan konsumsi yang mempertimbangkan lingkungan tidak lagi dapat dipilih tetapi diwajibkan. 


Jadi, baik orang pribadi maupun perusahaan berupaya untuk mengurangi konsumsi barang-barang yang dapat merusak lingkungan alam kita. 


Upaya itu kini mudah dilihat di bidang konsumsi dan distribusi. Hal yang menonjol adalah mengurangi pemakaian palstik yang dianggap perusak utama lingkungan.


Produsen mengurangi pemakaian plastik untuk mengemas produknya atau juga menggantikan kemesan plastik dengan bahan lain seperti kertas. Mereka juga mendorong konsumennya agar mengurangi pemakaian plastik dengan berbagai event.


Misalnya, sejumlah kafe memberikan diskon kepada konsumen yang membawa botol minuman sendiri. Di supermarket memberikan uang seharga kantong plastik bagi konsumen yang membawa tas belanja sendiri.


Di samping itu, mulai diproduksi banyak jenis barang dari bahan alami yang tidak berdampak buruk pada lingkungan. Antaranya, kaus kaki dari jagung, bahan kemasan dari jagung yang menggantikan plastik gelembung, handuk dari bambu, dan sebagainya. 


Barang-barang dari bahan alami itu dapat hancur seratus persen jika dibuang dan juga tidak akan merusakkan lingkungan. 


Sepertinya, konsumsi terkini khususnya untuk tahun 2019 merupakan kewajiban untuk menjaga dan melindungi lingkungan, tidak lagi harus didorong dan dihimbau.

Pilihan Editor

Close

Situs kami menggunakan cookie dan teknologi lainnya untuk memberikan Anda layanan yang lebih baik. Dengan terus menggunakan situs ini, Anda menyetujui penggunaan teknologi ini dan kebijakan kami. Detail >