Pergi ke Menu Pergi ke Halaman Utama

Korea Utara

Warisan Lee Hee-ho sebagai Aktivis Demokrasi dan Ibu Negara Korea Selatan

#Fokus Sepekan l 2019-06-13

Selangkah Satu Korea

© YONHAP News

Mantan ibu negara Lee Hee-ho, istri mendiang mantan presiden Kim Dae-jung, meninggal pada tanggal 10 Juni di usia 96 tahun. Dia menikah dengan Kim Dae-jung pada tahun 1962 dan mendukung sepanjang kehidupan dan karir politik sang suami yang kacau. Dia selalu berada di samping suaminya, yang mengalami berbagai tantangan besar dari tahun 1972 hingga awal 1980-an. Pada tahun 2000, ia menemani Kim sebagai ibu negara Korea Selatan pertama ke Korea Utara untuk menghadiri pertemuan puncak antar-Korea yang pertama dalam sejarah. Ketika mantan pemimpin Korea Utara Kim Jong-il meninggal pada tahun 2011, dia kembali mengunjungi Pyongyang untuk menyampaikan belasungkawa.


Lee Hee-ho kembali mengunjungi Korea Utara pada tahun 2015. Di Pyongyang, ibukota Korea Utara, Lee yang berusia 93 tahun pada saat itu berkunjung ke berbagai fasilitas, dan memberikan topi serta obat-obatan kepada anak-anak. Namun kali ini, Korea Utara tidak mengirim delegasi ke Korea Selatan atas kematian Lee Hee-ho. Sebaliknya, Kim Yo-jong, adik perempuan pemimpin Kim Jong-un mengirim karangan bunga dan pesan belasungkawa atas nama pemimpin Kim Jong-un ke Korea Selatan lewat desa perbatasan Panmunjom. Setelah kematian mantan ibu negara Korea Selatan tersebut, tampaknya ada perubahan diplomasi yang halus seputar Semenanjung Korea.


Lee Hee-ho, seorang aktivis pro-unifikasi yang memberikan dorongan dalam hubungan antara Korea Selatan dan Korea Utara, telah menutup mata untuk selamanya. Namun, keinginannya yang kuat demi persatuan Korea tampaknya memberikan momentum yang sangat dibutuhkan untuk rekonsiliasi antar-Korea.

Pilihan Editor