Pergi ke Menu Pergi ke Halaman Utama
Go Top

Budaya

Manusia Surplus – Sohn Chang-seop

#Sudut Sastra Korea l 2022-02-11

Sudut Sastra Korea

ⓒ Getty Images Bank

Bo-woong menyalahkan posisi tidurnya yang aneh pada Perang Korea. Karena tidak berhasil melarikan diri dari serangan pasukan Korea Utara, selama tiga bulan ia terperangkap di Kota Seoul. Ia takut diserang oleh tentara Komunis dan serangan udara, sehingga ia tidak pernah tidur dengan tenang dan lelap. Selama 24 jam, baik siang ataupun malam, ia tidak pernah sekali pun benar-benar lepas dari ketegangan. Ketegangan itu tidak pernah lepas dan terus ia rasakan hingga hari ini.



- Cuplikan program:


Ik-jun adalah tipe seseorang yang suka mengkritik dan menyalahkan dunia nyata sebagai penyebab kemalangan nasibnya. 

Berbeda dengan Ik-jun, Bo-woong yang berbadan tinggi dan kurus hanya duduk dan membaca judul surat kabar sambil mencuri-curi pandang dengan sang asisten, In-suk, seharian. 

Man-ki adalah seorang dokter gigi yang handal dengan sifat yang baik. Sayangnya, Man-ki tidak memiliki peralatan yang terbaik sehingga ia hanya memiliki segelintir pasien langganan dan sedikit penghasilan. Terlebih lagi, gedung dan peralatan klinik Man-ki adalah milik keluarga istri Bong-woo.


익준은 부조리한 현실을 비판하며

자신을 합리화하는 인물이였습니다.

그에 비해 빼빼 마른데다 키만 멀쑥한 봉우는

건성건성 기사의 제목만 훑어보고는 

인숙만 흘끔거리며 한나절을 보냈습니다.

치과의사인 만기는 실력도 좋고 인품도 좋아 누구나 신뢰했지만

빈약한 병원 시설로 많은 환자를 치료하지 못해 경제적으로는 늘 가난했고

더구나 현재의 건물이나 병원 기구들도 모두

봉우 처가의 소유였습니다.



Ungkapan “manusia surplus” bermakna seseorang yang telah kehilangan tujuan hidupnya dikarenakan sulitnya hidup dan dianggap tidak berguna bagi masyarakat, bagaikan barang dagangan yang tidak laku terjual. Ungkapan ini menjadi tren di tahun 2010-an, namun Sohn Chang-seop sudah terlebih dahulu menggunakan ungkapan ini di tahun 1950-an untuk menggambarkan kondisi serupa. Usai perang, Korea adalah tempat yang suram. Di masa ini, kehidupan di Korea sangat kisruh dan rumit. Warga dengan berbagai karakteristik hidup di dalamnya. Pengarang Sohn mengambil inspirasi untuk cerpen ini dari warga yang tidak berhasil beradaptasi dan terasingkan dari kenyataan. Tokoh Bong-woo dan Iksun menjadi contoh dari para “manusia surplus” tersebut. Keduanya menjalani kehidupan pasca perang tanpa harapan ataupun impian.



Sepertinya kepala Ik-jun terluka. Di satu tangannya, ia sedang menenteng sepatu karet yang ujungnya mencuat dari lubang kantung kertas. Tanpa ekspresi di wajahnya, Ik-jung menghadap ke arah Man-ki dan keluarganya dan berdiri terdiam. Raut wajahnya bagaikan sebuah patung yang tidak menunjukkan kemanusiaannya. 

“Aduh, seharusnya anak tidak berguna itu saja yang dibawa mati. Mungkin dewa kematian sudah gila,” ibu mertua Ik-jun bergumam sambil menatapnya. Baru di saat itulah ia mulai menangis. 

Namun, anak-anak Ik-jun tetap menyambut ayah mereka dengan gembira. Anak bungsunya yang berusia tujuh tahun berlari sambil memanggil ayahnya dan memeluknya. 

“Ayah, aku memakai baju baru, naik mobil dan naik gunung,” anak Ik-jun memamerkan pakaian berkabungnya, namun Ik-jun tetap terdiam bagaikan patung totem. 


익준은 머리에 상처를 입은 모양이었다.

한 손에는 아이들 고무신 코승이가 비죽이 내보이는

종이 꾸러미를 들고 있었다.

그는 무표정한 얼굴로 

이쪽을 향하고 꼼짝 않고 서 있었다.

석상처럼 전연 인간이 느껴지지 않는 얼굴이었다.


어이구, 차라리 쓸모없는 저 따위나 잡아가지 않구 염라대왕두 망발이시지, 하며

익준의 장모는 사위를 바라보면서 그렇게 중얼대고

인제야 눈물을 질금거렸다.


그래도 아이들이 제일 반가워했다.

일곱 살 먹은 끝의 놈은 아버지, 하고 부르며

쫒아가서 매달렸다.


아부지, 나, 새 옷입구, 자동차 타구 산에 갔다 왔다,

어린 것이 자랑스레 상복 자락을 쳐들여 보여도

익준은 장승처럼 선 채 움직일 줄을 몰랐다.




Sohn Chang-seop (1922 – 23 Juni 2010)

    - lahir di Kota Pyeongyang, Propinsi Pyeongam Selatan

    - Debut: Cerpen “Hari Libur” (1952)

Pilihan Editor

Close

Situs kami menggunakan cookie dan teknologi lainnya untuk memberikan Anda layanan yang lebih baik. Dengan terus menggunakan situs ini, Anda menyetujui penggunaan teknologi ini dan kebijakan kami. Detail >