Pergi ke Menu Pergi ke Halaman Utama
Go Top

Budaya

Kuitasi Hutang – Park Tae-won

#Sudut Sastra Korea l 2022-03-11

Sudut Sastra Korea

ⓒ Getty Images Bank

Cerita yang akan saya perdengarkan kepada hadirin adalah cerita tentang seorang bocah yang bekerja sebagai pesuruh di sebuah warung udon. 


Apakah nama bocah itu Bokdong? Bukan. Namanya bukan Bokdong, tetapi Noma.


Tahun ini Noma beranjak usia 15 tahun. Tinggi badannya... ya, termasuk pendek untuk bocah berusia 15 tahun. Noma tidak memiliki ayah maupun ibu. Ia juga tidak memiliki rumah. 



- Cuplika program:


Noma mengumpulkan 10 jeon dari toko topi, 5 jeon dari apotek. Dari total 15 jeon tersebut, pemilik warung itu memberi 5 jeon kepada Noma untuk membeli sebungkus rokok bermerek ‘Mako.” Walau tidak membayarnya selama dua bulan, memikirkan bos-nya yang sedang duduk terdiam menunggu kedatangannya, tidak bisa merokok dan belum makan, membuat Noma merasa iba kepadanya.


노마가 모자 가게에서 10전, 약국집에서 5전,

도합 15전을 받아오니까

주인은 그 중에서 5전을 도로 노마를 주며 ‘마코’를 한 갑 사오라고 합니다.


노마는, 담배도 먹지도 못하고 초연하게 앉아서

자기가 돌아오면 외상값이나 받아 오랄 작정으로 있었을 주인의 정경을 생각하니

제 월급을 두 달치나 안 준 주인이건만

가엾은 생각을 금할 수 없었습니다.



Walau latar dari cerpen ini adalah jaman penjajahan Jepang, hal seperti ini masih umum dijumpai dalam masyarakat masa kini. Di dekat sebuah usaha kecil, dibuka usaha yang sama, namun dengan modal dan tempat yang lebih besar, sehingga usaha kecil tersebut tidak mampu bersaing dan terpaksa ditutup. Inilah yang terjadi pada usaha-usaha lokal yang terkubur oleh perusahaan waralaba, seperti kafe lokal yang kalah bersaing dengan cabang kafe besar, atau supermarket lokal yang terpaksa tutup karena di dekatnya dibangun pusat perbelanjaan besar. Walau bercerita tentang seorang bocah remaja berusia 15 tahun, cerpen ini juga menunjukkan dinamika kehidupan nyata masyarakat Korea di tahun 30-an yang masih serupa dengan masa kini.    



Pemilik warung itu akan menutup warungnya. Begitu menatap wajah Noma, ia langsung berkata bagaimana selama ini dirinya tidak sanggup membayar gaji Noma dan membiarkannya bekerja di tengah udara yang dingin hingga tangannya membeku. Memikirkan semua itu membuatnya merasa kasihan kepada Noma, dan karena itulah ia membuatkan udon terakhirnya untuk Noma.     


Sang pemilik warung mengeluarkan uang 4 Won dan meletakkannya di hadapan Noma, entah dari mana ia mendapatkan uang tersebut.


“Noma, kamu adalah seorang bocah yang tidak memiliki orang tua. Walaupun aku menutup usahaku, bagaimanapun caranya aku ingin membayar gajimu. Tetapi melakukan itu pun, aku tidak mampu. Dari gajimu selama 3 bulan, 9 won, aku hanya bisa mengumpulkan 4 won saja. Jika semua bayaran yang menunggak dikumpulkan, jumlahnya 18 won. Tapi dari beberapa bulan yang lalu saja uang itu tidak kita terima, dan sampai sekarang masih belum kita terima, pasti sulit untuk mengumpulkan semua bayaran itu sekaligus. Aku akan mempercayakan semuanya padamu. Kumpulkan bayaran itu sebisamu... kamu bisa gunakan semua itu untuk dirimu.” 


Seketika di luar salju mulai turun.


그 주인은 이제 이 장사를 그만 두려는 것이었습니다.

노마를 보자 월급을 이제까지 주지 못한 것이며

추운데 손등이 온통 터진 것이며...

그러한 것이 생각되어 노마가 퍽이나 가여웠으므로

마지막으로 그렇게 우동을 만들어 먹인 것입니다.


주인은 어디서 어떻게 변통을 하였는지 

돈 4원을 꺼내 노마 앞에 놓았습니다.


“노마야, 내가 장사를 그만 둘 때 그만두더라도 

 부모두 없는 어린 네 월급이야 어떻게든 해 주려 하였건만

 그것도 여의하게는 안 되는구나.

 석달 치 9원에서 4원밖에는 못 하

겠다.

 외상값 못 받는 것을 모두 쳐보니 18원 된다마는

 몇 달 전에 못 받고 못 받고 한 것들이니

 한 반이라도 걷어 받기는 힘이 들게다.

 모두 네게 맡기는 것이니 받을 수 있는 건 받아서 너나 써라...”


밖에는 어느 틈엔가 싸락눈이 내리기 시작합니다.




Park Tae-won (Seoul, 7 Desember 1909 – 10 Juli 1986)

    - Debut : Cerpen “Jenggot” (1930)

Pilihan Editor

Close

Situs kami menggunakan cookie dan teknologi lainnya untuk memberikan Anda layanan yang lebih baik. Dengan terus menggunakan situs ini, Anda menyetujui penggunaan teknologi ini dan kebijakan kami. Detail >