Pergi ke Menu Pergi ke Halaman Utama
Go Top

Sejarah

Perjanjian yang Tidak Ditepati

2019-01-02

Annyeonghasimnika, Inilah Seoul

© Getty Images Bank

Pada masa lalu hiduplah seorang pemuda bernama Jak Jea-geon yang sangat pemberani dan bijaksana.


Jak Jea-geon kelak menjadi kakek dari Wang Geon, raja pendiri Kerajaan Goryeo.


Alkisah, Jak Jea-geon melakukan perjalanan ke Dinasti Tang dengan kapal untuk mencari ayahnya.


Meskipun demikian, kapal yang dia naiki tidak mau bergerak di tengah laut selama tiga hari.


Awak kapal : Kenapa ya kapal ini tidak mau bergerak? Bagaimana ini, padahal perjalanan kita masih jauh.


Kebetulan di dalam kapal itu ada seorang dukun yang ikut menumpang. Para awak kapal bertanya kepada dukun itu tentang kejadian aneh yang menimpa mereka.


Sang dukun mengatakan kejadian itu terjadi karena seorang pemuda yang menaiki kapal itu.


Dukun : Menurut ramalan saya, agar kita aman dan selamat dari laut ini, seorang pemuda yang berasal dari Kerajaan Goryeo harus dibuang ke dalam laut.


Para awak kemudian mengetahui bahwa Jak Jea-geon lah yang dimaksud dukun itu. 


Saat hendak dibuang ke laut Jak Jea-geon memutuskan untuk meloncat ke dalam air.


Jak Jea-geon yang tenggelam ke dalam laut kemudian bertemu dengan raja laut.


Raja laut : Hai anak muda, saya adalah Raja Laut, sayalah yang membuat kapal yang kamu naiki tidak bergerak supaya kamu bisa terjun ke dasar laut.


Jak Jea-geon : Apa? Mengapa Raja laut membuat saya terjun ke sini? Apa maksudnya?


Raja laut : Begini. Seekor rubah menyiksa saya setiap malam dengan cara memukul gendang dan membaca kitab Buddha. Tolong tangkap rubah itu untuk saya.


Jak Jea-geon berjanji untuk mengabulkan permintaan raja laut dan membunuh rubah itu. 


Setelah berhasil melaksanakan janjinya, Raja laut berterima kasih kepada Jak Jea-geon dengan menjadikannya sebagai anak mantu.


Setelah menikah dengan anak raja laut, Jak Jea-geon kembali ke kampung halamannya.


Hari terus berganti, tidak terasa anak perempuan raja laut telah hidup dengan Jak Jea-geon selama 30 tahun.


Jak Jea-geon : Istriku, saya tahu kalau kamu sering pergi ke laut untuk bertemu dengan ayahmu. Tapi saya tidak tahu bagaimana caranya kamu kembali ke laut.


Istri : Benar suamiku, aku sering mengunjungi kerajaan laut secara diam-diam. Aku punya permintaan, kamu tidak boleh melihatku pergi ke kerajaan laut, jika kamu melanggarnya aku tidak boleh kembali ke daratan dan menemuimu.


Walaupun sudah berjanji dengan istrinya, Jak Jea-geon tetap ingin tahu bagaimana istrinya pulang ke dalam laut.


Pada suatu hari, Jak Jea-geon tidak sengaja mengintip istrinya pulang ke istana dalam laut melalui sumur di belakang rumah mereka.


Jak Jea-geon : Oh, jadi begitu caranya, istri saya pulang ke rumahnya di dalam laut.


Akan tetapi, istrinya tidak kembali sejak Jak Jea-geon mengintip dari sumur itu.


Jak Jea-geon memanggil istrinya dari atas sumur dan meminta maaf karena tidak menepati janjinya.


Jak Jea-geon : Maafkan aku istriku. Aku tidak sengaja melihatmu masuk ke dalam sumur untuk pulang ke Kerajaan Laut.


Dari dalam sumur terdengar suara menggema.


Istri : Suamiku, aku tidak bisa kembali karena kamu telah melanggar perjanjian kita.


Walaupun Jak Jea-geon meminta maaf berkali-kali namun istrinya tetap tidak kembali.


Orang berkata, telur dan perjanjian dapat pecah dengan mudah. Oleh karena itu, ada nasihat kuno di Korea yang menyatakan bahwa kita harus menepati janji yang kita buat sendiri.

Pilihan Editor

Close

Situs kami menggunakan cookie dan teknologi lainnya untuk memberikan Anda layanan yang lebih baik. Dengan terus menggunakan situs ini, Anda menyetujui penggunaan teknologi ini dan kebijakan kami. Detail >