Pergi ke Menu Pergi ke Halaman Utama
Go Top

Gaya Hidup

Worker-Customer Balance

2019-02-25

Annyeonghasimnika, Inilah Seoul

© Getty Images Bank

Tahun lalu masyarakat Korea Selatan sering menyebut istilah ‘Worlabel’ dalam kehidupan sehari-harinya. Istilah itu adalah singkatan dari ‘work and life balance’ yang bermakna ‘keseimbangan pekerjaan dan kehidupan’. Kemudian muncul istilah ‘Workebel’ yang artinya adalah ‘Worker-Customer Balance’ sebagai kata kunci tahun ini. Bunyinya sangat mirip tapi artinya berbeda, yakni ‘keseimbangan pekerja dan konsumen’.


Kita sering melihat konsumen yang terburu-buru atau bersikap kasar saat menghadapi pelayan di sebuah toko, rumah makan atau jasa lainnya. Oleh karena itu, muncul istilah ‘Black Consumer’ yang mengacu pada mereka yang dengan sengaja membuat masalah dengan pihak pemberi layanan barang dan jasa untuk mendapatkan keuntungan pribadi dari produsen yang takut akan keluhan konsumennya.


Hal itu memunculkan istilah ‘Worker-Customer Balance’ atau ‘workebel’ yang menghimbau para konsumen bersikap sesuai etika ketika menghadapi pihak yang memberikan jasa kepadanya.


Tren ini mengharapkan agar konsumen memiliki kesadaran yang lebih matang dengan menyeimbangkan peran konsumen dan pihak pemberi jasa layanan.


Beberapa saat lalu sebuah perusahaan informasi pekerjaan paruh waktu atau pekerjaan sampingan di Korea Selatan mengadakan survei terkait pekerjaan. 


Sembilan dari sepuluh pekerja di bidang jasa layanan ternyata pernah tersinggung karena perlakuan konsumen yang tidak sopan, termasuk gaya bicara dan tingkah laku konsumen.


Sekitar 90 persen pekerja paruh waktu dalam survei tersebut menyatakan mereka merasa senang bahkan terharu, ketika konsumen membalas salam atau mengucapkan terima kasih atas jasa yang mereka lakukan.


Selama ini, perusahaan menekankan pelayanan yang ramah demi kenyamanan konsumen dan citra baik perusahaannya. Namun, perusahaan saat ini juga mulai melindungi para pekerjanya dari perbuatan konsumen yang tidak sopan.


Sebagai contohnya, jika menggunakan layanan lewat telepon, pembicaraan konsumen dan pegawai akan direkam secara otomatis setelah menginformasikan hal tersebut kepada konsumen yang menelepon. 


Beberapa perusahaan bahkan mengambil tindakan hukum bagi konsumen yang melakukan perbuatan melanggar etika atau menyakiti pekerja, baik fisik maupun mental. 

 

Dengan demikian, tren baru ini menjadi sebuah gerakan untuk mengubah kualitas perlindungan terhadap pegawai. Selama ini para pekerja diminta untuk bersikap ramah kepada konsumen. Namun, kini disadari bahwa para pekerja pun juga perlu diperlakukan sopan oleh konsumen. 


Untuk menjadi konsumen yang dapat dihargai, mereka harus memiliki etika dalam menghadapi pekerja yang melayani dengan sepenuh hati.

Pilihan Editor

Close

Situs kami menggunakan cookie dan teknologi lainnya untuk memberikan Anda layanan yang lebih baik. Dengan terus menggunakan situs ini, Anda menyetujui penggunaan teknologi ini dan kebijakan kami. Detail >