Presiden Korea Selatan Moon Jae-in, yang segera mengakhiri masa jabatannya pada hari Senin (09/05) ini, mengatakan dalam pidato perpisahannya bahwa dia meletakkan beban beratnya sebagai presiden dan menyebut lima tahun terakhir adalah periode mengatasi krisis nasional.
Moon menilai dalam periode krisis tersebut, Korea Selatan menjadi negara yang kuat dan membuat lompatan besar menjadi sebuah negara maju.
Dikatakannya, dalam proses mencapai kesuksesan tersebut, dia sangat bangga dan terhormat dapat melakukannya bersama-sama dengan rakyat Korea Selatan yang disebutnya sebagai rakyat yang hebat.
Moon membuat pernyataan itu dalam pidato perpisahannya di kantor kepresidenan pada hari Senin (09/05), hari terakhir dalam masa jabatannya sebagai Presiden Korea Selatan.
Terkait isu antar-Korea, Moon mengatakan bahwa di awal masa jabatannya, dia berharap agar kedua Korea dapat mengembangkan hubungan ke fase dialog dan diplomasi, namun menyesalkan dirinya tidak dapat membuat perkembangan lebih jauh.
Dia menekankan bahwa meskipun terdapat hambatan yang sulit yang hanya dapat diatasi dengan komitmen penuh pemerintah, namun dilaog antar-Korea harus kembali dibuka di bawah pemerintahan Korea Selatan yang baru.
Selanjutnya, dia berharap pemerintahan yang akan datang juga akan terus melanjutkan sejarah kesuksesan Korea Selatan.
Terlebih lagi, dia menghimbau perlunya untuk bergerak maju menuju persatuan nasional dengan menyelesaikan konflik yang tercipta dalam proses pemilihan umum presiden lalu.
Presiden Moon dijadwalkan akan menerima kunjungan sejumlah diplomat asing yang tengah melawat ke Seoul untuk menghadiri upacara pelantikan Presiden Terpilih Yoon Suk Yeol, dan kemudian akan meninggalkan Kantor Kepresidenan Cheongwadae pada pukul 18.00 hari ini.