Komisi Standar Komunikasi Korea (KCSC) pada hari Rabu (28/08) menggelar rapat pleno darurat untuk membahas tindak kejahatan seks digital yang melibatkan pornografi deepfake yang terus meningkat, di tengah kekhawatiran atas penyebaran cepat konten eksplisit seksual yang dibuat dengan menggunakan kecerdasan buatan (AI).
Dalam pertemuan tersebut, KCSC memutuskan untuk membentuk dewan konsulatif dengan operator platform daring global, selain situs portal utama dalam negeri, yang mencakup Telegram, Facebook, X, Instragram dan YouTube.
Menanggapi penyebaran cepat konten eksplisit seksual yang dihasilkan melalui teknologi deepfake, KCSC berencana untuk mencegah kasus-kasus serupa dengan segera menghapus dan memblokir video terkait, sekaligus meminta pengaturan mandiri.
KCSC juga mendorong peluncuran saluran komunikasi tatap muka bagi operator yang tidak memiliki badan konsultatif di dalam negeri, di antara operator platform online global dengan server yang berlokasi di luar negeri.
Mulai hari Selasa (27/08) kemarin, KCSC telah membuat layanan terpisah di laman resminya yang dikhususkan untuk pelaporan konten pornografi deepfake, dan juga menerima laporan terkait lewat daring serta telepon secara real time.
Selain itu, KCSC juga memutuskan untuk menggandakan personel pemantauan untuk menanggapi penyebaran konten semacam itu.