Sebuah laporan terbaru memperkirakan ekonomi Korea Utara tumbuh dengan laju ekspansi terkuat dalam delapan tahun terakhir. Pertumbuhan itu didorong oleh proyek-proyek yang dipimpin negara dan meningkatnya kerja sama ekonomi dengan Rusia.
Dengan menggunakan Sistem Akun Nasional PBB, Bank Sentral Korea (BOK) memperkirakan PDB riil Korea Utara tahun lalu naik 3,7 persen menjadi 36,97 triliun won. Angka ini menandai pertumbuhan dua tahun berturut-turut, setelah naik 3,1 persen pada 2023.
Bahkan, pertumbuhan tahun lalu, sebesar 3,7 persen, menjadi yang tertinggi dalam delapan tahun sejak 2016 yang mencapai 3,9 persen. Tingkat pertumbuhan Korea Utara tahun lalu juga melampaui Korea Selatan, yang hanya tumbuh 2,0 persen.
Sektor manufaktur tumbuh 7 persen berkat peningkatan kapasitas dan naiknya ekspor senjata. Pertambangan naik 8,8 persen dan konstruksi 12,3 persen. Namun, sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan turun 1,9 persen.
Pendapatan Nasional Bruto (GNI nominal) Korea Utara mencapai 44,4 triliun won, hanya 1,7 persen dari total Korea Selatan. Pendapatan per kapita tercatat 3,4 persen dari tingkat Korea Selatan.
Perdagangan luar negeri Korea Utara tercatat 2,7 miliar dolar AS, turun 2,6 persen dari tahun sebelumnya. Ekspor meningkat 10,8 persen, tetapi impor menurun sebesar 4,4 persen. Sementara itu, perdagangan antar-Korea tidak berlangsung sama sekali pada 2023 dan 2024, dua tahun berturut-turut.