Korea Selatan akan menerapkan konsep “Korean Desk” dalam penyelidikan kasus narkotika oleh bea cukai yang melibatkan penumpang dan barang kiriman, dengan menempatkan langsung personel penegak hukum dan penyidik di luar negeri.
Badan Bea dan Cukai Korea pada Jumat (05/12) menggelar rapat Satuan Tugas Khusus Penanggulangan Penyelundupan Narkotika tahun 2025, dan memutuskan untuk membentuk “Korean Desk Narkotika” di 10 negara yang dianggap berisiko tinggi sebagai sumber penyelundupan narkotika ke Korea Selatan.
Negara-negara yang menjadi target adalah lima negara dengan jumlah temuan narkotika terbanyak dalam pengiriman menuju Korea Selatan, yakni Thailand, Vietnam, Malaysia, Amerika Serikat, dan Belanda.
Sementara itu, lima negara lain dengan peningkatan risiko tercepat adalah Kamboja, Laos, Kanada, Jerman, dan Prancis.
Berdasarkan data tahun lalu, sepuluh negara tersebut menyumbang 70 persen dari total kasus penyelundupan narkotika yang terdeteksi di perbatasan Korea Selatan.
Dari Januari hingga akhir Oktober, Bea Cukai Korea telah menyita total 1.032 kasus narkotika dengan berat mencapai 2.913 kilogram pada tahap perbatasan.
Lembaga tersebut berencana menempatkan sekitar 10 petugas secara sementara di masing-masing negara yang menjadi target. Para petugas ini akan melakukan operasi penindakan dan penyelidikan bersama otoritas bea cukai setempat, dengan fokus pada barang dan penumpang berisiko tinggi yang menuju Korea Selatan.
Dilihat berdasarkan negara asal pengiriman, kawasan Asia Tenggara masih menempati posisi teratas, dengan Kamboja dan Laos menunjukkan tren peningkatan.
Pada Januari tahun depan, Korea Selatan dan Kamboja akan menggelar pertemuan antara kepala bea cukai kedua negara untuk membahas langkah-langkah penanggulangan kejahatan lintas negara, termasuk narkotika dan kejahatan siber.