Meksiko memutuskan untuk menaikkan tarif impor untuk sejumlah komoditas yang disebut sebagai produk strategis, termasuk suku cadang otomotif dan tekstil, yang berasal dari negara-negara tanpa perjanjian perdagangan bebas (FTA) dengan Meksiko, seperti Korea Selatan dan China.
Melalui pernyataan pers pada Kamis (11/12), Senat Meksiko telah mengirimkan revisi Undang-Undang Pajak Umum atas Ekspor dan Impor (LIGIE) kepada pihak eksekutif, setelah RUU tersebut disetujui oleh kedua kamar parlemen. Proses selanjutnya adalah penandatanganan oleh presiden.
RUU tersebut menetapkan 1.463 jenis barang, antara lain suku cadang otomotif, produk baja dan aluminium, plastik, perlengkapan elektronik rumah tangga, serta tekstil sebagai bagian dari 17 sektor strategis, dan mengenakan tarif impor antara 5 hingga 50 persen. Regulasi ini diperkirakan segera mulai berlaku pada Januari tahun depan.
Kebijakan ini berlaku untuk sejumlah barang tertentu yang diimpor dari negara-negara yang tidak memiliki perjanjian perdagangan bebas (FTA) dengan Meksiko, seperti Korea Selatan, China, India, Vietnam, Thailand, Indonesia, Taiwan, Uni Emirat Arab (UEA), dan Afrika Selatan.
Korea Selatan terus mencatat surplus neraca perdagangan terhadap Meksiko sejak 1993, berdasarkan data Bank Sentral Meksiko dan Kementerian Ekonomi negara tersebut.
Hingga kuartal ketiga tahun ini, nilai ekspor Korea Selatan tercatat 12,09 miliar dolar AS, lebih tinggi dibandingkan nilai impornya dari Meksiko.
Pemerintah Meksiko menegaskan bahwa kebijakan tarif tersebut bertujuan untuk melindungi dan mengembangkan industri dalam negeri.