Sebuah survei terbaru menunjukkan bahwa 55,5 persen warga Korea Selatan sependapat bahwa Korea Selatan dan Korea Utara perlu membangun hubungan sebagai “dua negara damai yang berorientasi pada unifikasi.”
Menurut hasil Survei Opini Publik tentang Unifikasi Nasional kuartal keempat yang dirilis Dewan Penasihat Unifikasi Damai Nasional (DPAC) Jumat (26/12), sebanyak 28,9 persen responden menyatakan sangat setuju dengan gagasan “hubungan dua negara damai yang berorientasi pada unifikasi”, sementara 26,6 persen menjawab cenderung setuju.
Sebanyak 56,8 persen responden menyatakan setuju dengan arah kebijakan Korea Utara yang disampaikan Presiden Lee Jae Myung pada tanggal 2 Desember, termasuk visi “Semenanjung Korea tanpa kekhawatiran perang”, “era baru koeksistensi damai”, serta “pertumbuhan bersama antar-Korea.”
Mengenai prospek hubungan antar-Korea tahun depan, porsi responden terbesar, yakni 49,4 persen menilai situasinya tidak akan banyak berubah dibandingkan tahun ini. Sebanyak 34,3 persen responden memperkirakan akan membaik, sedangkan 13,6 persen memandang kondisinya akan memburuk.
Dewan Penasihat Unifikasi Damai Nasional secara rutin melaksanakan survei opini publik tentang unifikasi setiap kuartal. Dalam survei kuartal keempat ini, pandangan bahwa unifikasi diperlukan tercatat sebesar 68 persen, tidak jauh berbeda dari hasil survei di kuartal sebelumnya yang mencapai 68,6 persen.
Survei kali ini diselenggarakan mulai tanggal 5 hingga 7 Desember kepada seribu orang dewasa Korea Selatan melalui wawancara dengan telepon, dengan memiliki tingkat kepercayaan 95 persen, dengan margin of error kurang lebih 3,1 persen.