Para ahli menganalisis bahwa kepemilikan kapal selam bertenaga nuklir oleh Korea Selatan dapat menyulitkan perhitungan militer dan keamanan China.
Harian South China Morning Post (SCMP) yang berbasis di Hong Kong, Kamis (08/01) melaporkan bahwa beban keamanan China berpotensi meningkat seiring dengan intensifnya perlombaan senjata di Semenanjung Korea.
Hal ini dipicu oleh langkah Korea Selatan untuk mengamankan kapal selam nuklir serta ambisi Korea Utara dalam mengejar status sebagai negara pemilik senjata nuklir.
Profesor Stephen Nagy dari Universitas Kristen Internasional Jepang menilai bahwa meskipun kapal selam nuklir Korea Selatan tidak secara langsung mengancam keunggulan kuantitatif Angkatan Laut China, tetap ada lompatan kualitatif kemampuan aliansi AS di bawah laut.
Seiring dengan meningkatnya tuntutan AS agar sekutunya memperluas peran di kawasan Indo-Pasifik, muncul pula kemungkinan partisipasi Korea Selatan dalam pertahanan kolektif di sepanjang Rantai Pulau Pertama yang menghubungkan Okinawa, Taiwan, dan Filipina.
Liselotte Odgaard, peneliti senior di Hudson Institute, memprediksi bahwa Korea Selatan sedang bertransformasi menjadi sekutu strategis yang mendukung peningkatan pertahanan regional. Salah satunya adalah pembatasan ruang gerak Angkatan Laut China karena rencana kapal selam nuklir Korea Selatan.
Para ahli menilai, China akan memperkuat hubungan dengan Korea Utara tahun ini, terlepas dari adanya upaya Korea Utara yang mengejar status negara pemilik nuklir.
Sebelumnya, Presiden Lee Jae Myung menyatakan bahwa kepentingan inti setiap negara harus saling dihormati maka isu kapal selam bertenaga nuklir dapat termasuk dalam kepentingan utama Korea Selatan.