Nilai kontrak proyek konstruksi luar negeri Korea Selatan tahun lalu mencatat level tertinggi dalam 11 tahun, didorong oleh proyek-proyek besar di sektor energi, termasuk pembangkit listrik tenaga nuklir di Ceko, serta lonjakan pesanan dari kawasan Eropa.
Kementerian Pertanahan, Infrastruktur, dan Transportasi Korea Selatan pada Jumat (09/01) menyampaikan bahwa nilai kontrak proyek konstruksi internasional pada tahun 2025 tercatat sebesar 47,27 miliar dolar AS.
Angka tersebut merupakan yang tertinggi dalam 11 tahun sejak 2014, sekaligus untuk pertama kalinya melampaui 40 miliar dolar AS sejak 2015. Dibandingkan tahun sebelumnya, nilai tersebut meningkat sekitar 27,4 persen.
Jumlah nilai kontrak konstruksi luar negeri tahunan terus mencatat tren peningkatan selama empat tahun berturut-turut, dari 30,98 miliar dolar AS pada 2022, menjadi 33,31 miliar dolar AS pada 2023, dan 37,11 miliar dolar AS pada 2024.
Dilihat per kawasan, Eropa mencatat nilai kontrak sebesar 20,16 miliar dolar AS, melonjak 298 persen dibandingkan tahun sebelumnya berkat proyek pembangunan PLTN Dukovany senilai 18,72 miliar dolar AS. Dengan demikian, kawasan Eropa menyumbang 42,6 persen dari total nilai kontrak konstruksi luar negeri.
Nilai kontrak konstruksi Korea Selatan di Timur Tengah yang selama ini menjadi pasar kuat, turun 35,8 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Meski demikian, kawasan tersebut tetap mempertahankan posisinya sebagai pasar penting dengan capaian kontrak di atas 10 miliar dolar AS selama tiga tahun berturut-turut.
Dilihat per negara, Ceko menempati posisi teratas secara dominan dengan nilai kontrak sebesar 18,73 miliar dolar AS, didorong oleh proyek konstruksi PLTN.
Posisi berikutnya ditempati Amerika Serikat sebesar 5,79 miliar dolar, Irak sebanyak 3,46 miliar dolar, serta Qatar dan Arab Saudi yang masing-masing mencatat 2,85 miliar dolar AS.