Nilai tukar won Korea terhadap dolar Amerika Serikat yang anjlok hampir 10 persen dalam enam bulan terakhir menjadi perhatian pejabat ekonomi AS.
Menteri Keuangan AS Scott Bessent menyinggung bahwa penurunan tajam nilai won baru-baru ini tidak sejalan dengan fundamental ekonomi Korea Selatan yang kuat. Hal ini disampaikan langsung kepada Wakil Perdana Menteri sekaligus Menteri Ekonomi dan Keuangan Korea, Koo Yun-cheol pada tanggal 12 Januari lalu.
Bessent menilai bahwa volatilitas berlebihan di pasar valuta asing tidak diinginkan.
Pernyataan ini mencerminkan kekhawatiran pemerintahan Trump bahwa permintaan spekulatif dan pelemahan sentimen pasar telah menunjukkan kondisi ekonomi Korea Selatan secara berlebihan dibandingkan kekuatan sebenarnya.
Pernyataan Korea Selatan mengenai kondisi ekonomi yang stabil dinilai sebagai intervensi verbal untuk mendukung nilai won.
Bloomberg dan media asing lainnya menilai bahwa pemerintah AS sudah membuat pernyataan tidak biasa yang mendukung nilai won.
Sementara itu, Mahkamah Agung AS hingga Rabu (14/01) waktu setempat masih belum memberikan putusan terkait legalitas kebijakan tarif timbal balik pemerintahan Trump.
Trump mendesak Mahkamah Agung agar memberikan putusan yang menguntungkan, dengan menyatakan bahwa pembatalan tarif dapat menyebabkan kewajiban pembayaran kompensasi dalam jumlah besar kepada negara lain.