Komite Kebijakan Moneter Bank Sentral Korea (BOK) memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan pada level 2,5% per tahun dalam rapat kebijakan moneter yang digelar pada Kamis (15/01).
Berdasarkan analisis, keputusan tersebut mencerminkan kekhawatiran bahwa penurunan suku bunga dapat memicu penurunan nilai won dan lonjakan nilai tukar, mengingat kurs mata uang won terhadap dolar AS mendekati level 1.500 won pada awal tahun ini.
Kenaikan harga impor akibat tingginya nilai tukar telah menyebabkan tingkat inflasi konsumen berada di level 2% selama empat bulan berturut-turut. Harga rumah di Seoul yang terus meningkat meskipun pemerintah sudah mengantisipasi dengan berbagai kebijakan.
Hal-hal tersebut menjadi faktor penyebab keengganan BOK untuk menurunkan suku bunga.
Sejak menghentikan penurunan suku bunga pada paruh kedua tahun lalu, Komite Kebijakan Moneter telah membekukan suku bunga sebanyak lima kali berturut-turut, yaitu pada bulan Juli, Agustus, Oktober, November, serta rapat pertama di tahun baru 2026 ini.
Dengan demikian, suku bunga acuan akan tetap bertahan di level 2,5% selama setidaknya tujuh bulan sejak Juli tahun lalu.
Ketidakstabilan nilai tukar won terhadap dolar menjadi salah satu latar belakang utama kebijakan penahanan suku bunga.
Dalam kondisi di mana suku bunga Korea Selatan jauh lebih rendah dibandingkan AS, penurunan tambahan berpotensi memicu arus keluar modal asing dan memperbesar tekanan pelemahan won.
Para analis menilai, meskipun pelemahan won belakangan ini tidak sepenuhnya mencerminkan fundamental ekonomi Korea Selatan, BOK tidak perlu menurunkan suku bunga yang justru dapat menstimulasi pelemahan mata uang won dalam situasi seperti sekarang ini.