Dalam tujuh tahun terakhir, daya saing baja dan mesin sebagai komoditas ekspor andalan Korea Selatan tercatat mengalami penurunan. Sebaliknya, daya saing sektor otomotif dan semikonduktor justru menunjukkan peningkatan.
Menurut laporan “Penilaian Daya Saing Ekspor per Komoditas Utama” yang dirilis Jumat (16/01), Bank Sentral Korea menyebutkan bahwa ekspor Korea Selatan tahun 2025 meningkat 3,8 persen dan untuk pertama kalinya menembus 700 miliar dolar AS, meski di tengah memburuknya lingkungan perdagangan global seperti kenaikan tarif AS.
Namun, BOK juga menekankan bahwa di balik capaian tersebut, pangsa ekspor Korea Selatan di pasar global justru menunjukkan tren penurunan sejak 2018.
Hasil analisis menunjukkan bahwa sejak 2018, daya saing baja dan mesin Korea mengalami penurunan baik dari sisi produk maupun pasar.
Untuk baja, penurunan ini dipicu oleh kelebihan pasokan global akibat ekspansi fasilitas produksi di China pada pertengahan 2010-an, serta melemahnya sektor properti, yang mendorong masuknya produk baja murah asal China ke pasar dunia.
Sementara itu, pada sektor mesin, ekspor mesin umum buatan China dengan harga rendah turut menekan daya saing produk Korea Selatan.
Untuk sektor otomotif, meski daya saing pasar melemah dalam periode yang sama akibat perluasan produksi di luar negeri, peningkatan daya saing produk terlihat cukup menonjol.
Hal ini didorong oleh peluncuran merek kendaraan premium sejak akhir 2010-an dan peningkatan kualitas yang berkelanjutan, serta pengembangan platform kendaraan listrik yang terpisah dari mesin pembakaran internal. Upaya tersebut turut memperkuat daya saing kendaraan listrik Korea Selatan pada periode 2022 hingga 2024.
Untuk sektor semikonduktor, daya saing produk dinilai melonjak satu tingkat setelah produsen memori domestik Korea Selatan lebih cepat mengembangkan dan mengomersialkan produk bernilai tambah tinggi seperti HBM dan DDR5 dibandingkan para pesaing global.