Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump mengancam akan menaikkan kembali tarif timbal balik dan tarif otomotif terhadap Korea Selatan ke level sebelum perjanjian perdagangan. Langkah ini diambil menyusul kegagalan Majelis Nasional Korea Selatan dalam menyelesaikan prosedur hukum yang diperlukan untuk menerapkan kesepakatan perdagangan bilateral.
Dalam unggahannya di media sosial Truth Social pada Senin (26/01), Trump menyatakan bahwa parlemen Korea Selatan tidak memenuhi kesepakatan yang telah dibuat antara Seoul dan Washington. Oleh karena itu, ia akan menaikkan tarif untuk otomotif, kayu, farmasi, serta seluruh tarif timbal balik lainnya dari 15 persen menjadi 25 persen.
Trump menulis bahwa dirinya dan Presiden Korea Selatan, Lee Jae Myung telah mencapai apa yang ia sebut sebagai "kesepakatan besar" bagi kedua negara pada 30 Juli tahun lalu. Kesepakatan tersebut ditegaskan kembali saat kunjungan Trump ke Korea Selatan pada 29 Oktober 2025. Ia pun mempertanyakan alasan parlemen Korea Selatan yang hingga kini belum menyetujui kesepakatan tersebut.
Pernyataan Trump ini merujuk pada persetujuan parlemen yang tertunda atas Undang-Undang Khusus Manajemen Investasi Strategis antara Korea Selatan dan AS. Regulasi ini diperlukan untuk melaksanakan janji investasi Seoul di AS sesuai perjanjian perdagangan bilateral.
Berdasarkan lembar fakta bersama yang dirilis pasca-KTT Gyeongju pada 29 Oktober tahun lalu, Korea Selatan berkomitmen untuk menginvestasikan 350 miliar dolar AS di As. Sebagai imbalannya, AS memberikan pengurangan tarif pada mobil asal Korea Selatan serta menyetujui pengenalan kapal selam bertenaga nuklir bagi Seoul.
Berdasarkan nota kesepahaman yang ditandatangani pada 14 November, kedua negara setuju untuk menerapkan pemotongan tarif secara retrospektif sejak hari pertama undang-undang tersebut diajukan ke parlemen Korea Selatan. Meski partai penguasa telah mengajukan RUU tersebut pada 26 November dan AS sempat menurunkan tarif mobil menjadi 15 persen pada 4 Desember, tertundanya proses legal formal di parlemen kini memicu kemarahan Trump.