Perdana Menteri Jepang, Sanae Takaichi menyebut Korea Utara sebagai negara bersenjata nuklir. Pernyataan ini menjadi sorotan tajam mengingat secara kedaulatan, Jepang tidak mengakui rezim tersebut sebagai kekuatan nuklir resmi.
Berdasarkan laporan Asahi Shimbun dan media lokal lainnya, PM Takaichi melontarkan pernyataan tersebut pada Senin (26/01) dalam sebuah program televisi yang menampilkan para pemimpin partai politik utama.
Saat ditanya mengenai strategi diplomatik dan keamanan Jepang, Takaichi menyinggung invasi Rusia ke Ukraina dan mendeskripsikan Korea Utara sebagai kekuatan nuklir. Ia menjelaskan bahwa hubungan Rusia dengan China saat ini sangat erat, begitu pula dengan ikatan antara Korea Utara dan Rusia. Takaichi secara gamblang menyebut ketiga negara tersebut sebagai negara-negara yang memiliki senjata nuklir.
Lebih lanjut, Takaichi mengungkapkan bahwa Jepang berada di tengah realitas geopolitik tersebut, sehingga ia menekankan pentingnya sikap diplomatik yang lebih kuat. Meskipun demikian, sikap resmi Jepang sejauh ini tetap selaras dengan Korea Selatan dan Amerika Serikat, yakni tidak mengakui status Korea Utara sebagai negara nuklir dan secara konsisten mendesak dilakukannya denuklirisasi secara lengkap.