Seluruh masyarakat Korea didaftarkan untuk menerima Penghargaan Nobel Perdamaian. Hal ini diajukan oleh beberapa ilmuwan politik, termasuk mantan ketua dan ketua Asosiasi Ilmu Politik Internasional, kepada Komite Nobel Norwegia bulan lalu.
Pendaftaran dilakukan berdasarkan upaya masyarakat yang menggagalkan darurat militer pada 3 Desember melalui partisipasi sipil non-kekerasan tanpa perang saudara atau penindasan. Aksi ini dinilai sebagai contoh model demokrasi global sebagai 'Revolusi Cahaya'.
Profesor Kim Eui-young dari Universitas Nasional Seoul menjelaskan bahwa 'resiliensi demokrasi' rakyat Korea menjadi tolok ukur penting di tengah kemunduran demokrasi dunia.
Analisis menunjukkan bahwa demokrasi Korea Selatan kini telah mencapai tingkat kematangan global, setara pengaruh K-Pop.
Presiden Lee Jae Myung melalui media sosialnya juga memberikan dukungan atas keberanian warga Korea Selatan.
Dalam pernyataan khusus peringatan satu tahun "Revolusi Cahaya" pada 3 Desember tahun lalu, Presiden Lee juga meyakini bahwa penganugerahan Nobel kepada rakyat Korea Selatan akan menjadi titik balik besar bagi negara-negara yang sedang dilanda konflik dan perpecahan.