Pemerintah Korea Selatan menyatakan revaluasi nilai mata uang Yuan Cina terhadap mata uang dolar AS tidak banyak mempengaruhi perekonomian Korea.
Departmen Keuangan Korea berpendapat bahwa revaluasi Yuan Beijing hingga 2,1 persen akan tidak begitu banyak memberi pengaruh pada kegiatan ekspor Korea.
Ketua bagian urusan internasional dari Departmen Keuangan Korea, Jin Dong-soo menyatakan, pada awalnya pemerintah memperkirakan sekala revaluasinya 5 sampai 10 persen, tetapi kenyataannya hanya 2.1 persen yang realtif kecil.
Karena itu revaluasi kali ini tidak akan memberi pengaruh besar pada pasaran perbankan dan perkenomian Korea.
Namun demikian, Jin dong-soo menyatakan pihaknya akan melakukan tindakan pengawasan ketat terhadap gejala yang tidak normal yang tampil di pasar terkait keputusan Cina itu, termasuk spekulasi devisa.
Cina mengumumkan tanggal 21 Juli revaluasi nilai mata uangnya Yuan dan mengambil sistem nilai tukar mengambang, karena Beijing menerima tekanan kuat dari mitra dagang, untuk membuang sistem untuk mematok nilai mata uang terhadap dolar AS yang tidak ada perubahannya, sejak krisis devisa di Asia pada tahun 97.
Negara mitra dagang Cina, khususnya AS selama ini terus menuntut keras revaluasi nilai mata uang Yuan dan pembuangan sistem pematokan kurs mata uang Cina terhadap dolar AS, karena hal itu lebih menguntungkan ekspotir Cina dalam pasar perdagangan internasional.