Pergi ke Menu Pergi ke Halaman Utama
Go Top

Budaya

Tanduk – Cho Hae-il

#Sudut Sastra Korea l 2022-03-18

Sudut Sastra Korea

ⓒ Getty Images Bank

Pria itu meletakkan barang di pikulnya, berdiri dan mengangkat kakinya untuk melangkah.

Barang yang ia bawa tidak seberapa. Namun, mungkin karena tanduk-tanduk pikul yang begitu panjang, di atas barang-barang itu, tanduk-tanduk itu menjulang ke angkasa dan membentang sejajar dengan tanah. Dan saat pria itu mengambil satu langkah, sosoknya terlihat bagaikan seekor hewan bertanduk yang indah. Hewan itu sedang bersiap-siap menggerakkan tanduknya itu.



- Cuplikan program:


Pemikul itu menghadap ke arah Ga Sun-ho, kebalikan dari arah yang seharusnya ia hadap. Raut wajahnya berubah menjadi raut yang sangat indah, di wajah itu terlihat kegembiraan.           

Tanduk-tanduk yang panjang dan anggun itu menghadap ke depan, sementara wajahnya menghadap ke belakang. Makhluk baru nan ajaib dan indah itu mulai bergerak bagaikan seekor hewan yang perkasa. 

Ga Sun-ho pun dipenuhi oleh rasa gembira. Sambil menatap wajah pria yang bersinar itu, ia mulai berjalan mengikuti langkahnya. 


사나이의 얼굴은 계속 진행방향과는 반대쪽인 

가순호 쪽으로 향해져 있었고,

그의 얼굴은 서서히 기쁨으로 타오르는

아름다운 얼굴로 바뀌어가고 있었다.               


견고하고 아름다운 뿔을 앞세우고 얼굴은 뒤로 향한,

그 세상에서 처음 보는 기이하고 아름다운 운동체는

한 마리 힘찬 짐승처럼 민첩하게 나아갔다.


가순호는 용솟음치는 기쁨을 맛보았다.

그리고 사나이의 빛나는 얼굴을 마주 보면서 

그 힘찬 짐승을 뒤쫒기 시작했다.



Seiring dengan modernisasi Korea di tahun ’60 dan ’70-an, pekerjaan sebagai pemikul perlahan-lahan mulai menghilang. Bentuk pikul tradisional Korea memang menyerupai hewan dengan dua tanduk yang panjang. Tanduk-tanduk tersebut melambangkan pertentangan proses modernisasi, begitu pula dengan cara berjalan sang pemikul. Ia berjalan menghadap ke belakang. Memalingkan tubuh dan membelakangi seseorang adalah salah satu cara seseorang mengekspresikan perasaan tidak nyaman, atau aksi penolakan. Walaupun menentang modernisasi adalah sesuatu yang sulit dilakukan, sang pemikul berjalan menghadap ke belakang. Ia menunjukkan bahwa dirinya tetap melangkah ke tempat tujuannya mengikuti modernisasi tapi, bukan tanpa perlawanan. Aksi tersebut menggambarkan kegigihan sang pemikul untuk mempertahankan jati dirinya. 



Orang tua Sun-ho mengurus sebuah gereja di pinggiran kota dan menggantungkan seluruh hidup mereka pada Tuhan. Kakak pria sulungnya aktif terlibat dalam partai oposisi walau ia sama sekali tidak memiliki naluri politik. Kakak pria keduanya lulus dari Akademi Militer Korea dengan nilai tertinggi dan kini berpangkat letnan setelah beberapa kali naik pangkat lebih cepat dari rekan-rekan seangkatannya. Ia juga memiliki seorang adik perempuan yang bertekad bulat untuk pindah ke Amerika sembari bekerja sebagai sekretaris di perusahaan asing. Kakak ketiga Ga Sun-ho adalah aktivis pergerakan buruh, walau sebenarnya ia tidak memiliki kapasitas sebagai pemimpin organisasi yang idealis. Lalu, Ga Sun-ho sendiri adalah seseorang yang sering mengunjungi kedai-kedai kopi untuk bertemu para antusias sastra lainnya, namun selalu kesulitan membayar sewa kamarnya karena pekerjaannya hanyalah menulis beberapa kalimat untuk majalah dan menerjemahkan teks. 

Dari semua orang yang diingat di kepalanya, tidak ada seorang pun yang hidup dengan benar.


변두리 교회 하나를 맡아서 하느님만 갈구하며 살고 있는 아버지 내외와

별 정치적 신념도 없으면서 타성적인 야당 생활을 하고 있는 맏형,

육사를 우수한 성적으로 졸업하고 

임관 이후 어느 동기생보다도 빠른 진급으로 중령에 이르러 있는 둘째 형,

미국인 상사의 비서실에 근무하면서

도미 계획을 착착 실천에 옮기고 있는 누이동생,

이상주의자다운 명석한 조직능력도 없이 무턱대고 노동운동에 가담하고 있는 셋째 형,

그리고 잡지사 근처에 있는 다방을 드나들며 책 읽는 친구들과 어울리고

어쩌다 글줄이나 얻어 싣게 되거나 번역거리라도 맡게 되면

거기서 얻은 푼 돈으로 간신히 하숙비나 물게 되는 것이 고작인 가순호 자기 자신.


이렇게 주욱 머리에 떠올려봐도

누구 하나 참으로 사람답게 살고 있다고 믿어지는 사람은 없다.




Cho Hae-il (lahir di Cina, 8 April 1941 – 19 Juni 2020)

    - Debut: Cepen “Seseorang Yang Meninggal Setiap Hari” (1970)

Pilihan Editor

Close

Situs kami menggunakan cookie dan teknologi lainnya untuk memberikan Anda layanan yang lebih baik. Dengan terus menggunakan situs ini, Anda menyetujui penggunaan teknologi ini dan kebijakan kami. Detail >