Pergi ke Menu Pergi ke Halaman Utama
Go Top

Budaya

Anak Sapi – Hwang Sun-won

#Sudut Sastra Korea l 2022-05-20

Sudut Sastra Korea

ⓒ Getty Images Bank

Anak sapi itu terlihat sangat menyedihkan. Di matanya yang besar terdapat gumpalan belek dan bokongnya yang kurung dipenuhi oleh serpihan tinja kering. 

“Jelek sekali anak sapi ini.”    

Dol-i kecewa dan kesal ayahnya menggunakan uang tabungannya selama beberapa tahun untuk membeli seekor anak sapi yang lemah. Namun, setelah diberi makan campuran potongan kulit kacang kedelai dan rerumputan selama lebih dari sebulan, anak sapi itu tampak lebih sehat.



- Cuplikan program:


Pasukan lawan menyerang dan menarik tentara mereka secara bergelombang. Bom dari serangan udara jatuh di sebuah rumah dan membunuh seluruh anggota satu keluarga, dan seorang warga desa menjadi lumpuh akibat terkena pecahan meriam.     

Setiap kali melewati desa itu, pasukan lawan juga merampas semua gabah, ayam, anjing, babi, bahkan sapi milik warga. Mereka mendatangi rumah Dol-i untuk merampas anak sapi mereka. Namun, Dol-i merangkul leher anak sapi itu dengan kencang dan turut terseret cukup jauh. Seorang tentara bahkan mengarahkan senapan ke arah Dol-i, namun Dol-i tetap memeluk leher anak sapi itu dengan kencang. Tentara itu mengutuk Dol-i sebelum akhirnya pergi begitu saja. 


군대가 한 차례 밀려 내려왔다가 밀려 올라갔다.

그 동안에 동네에서는 한 집이 비행기 폭격을 맞아

홀랑 날아가는 바람에 일가가 몰살을 당하고,

동네 사람 하나는 포탄 파편에 맞아 다리 하나를 못 쓰게 됐다.


그리고 군대들이 동네에 들를 적마다 곡식을 모아가고,

닭과 개와 돼지를 잡아가고, 소를 끌어 갔다.


돌이네 집에 와서 송아지를 끌어 가려 했다.

돌이가 송아지 목을 그러안고 놔 주지 않았다.

송아지와 함께 얼마를 질질 끌려갔다.

군인이 총부리를 들이댔다.

그래도 돌이는 송아지의 목을 꼭 안은 채 떨어져 나가지를 않았다.

지독한 놈이라고 하면서 군인이 그냥 가 버렸다.



Dalam peperangan, mempertahankan nyawa diri sendiri adalah sesuatu yang sulit dilakukan, apalagi menjaga nyawa seekor binatang. Karena itu kesetiaan Dol-i menjaga sahabatnya itu, bahkan di tengah kondisi peperangan sangat mengharukan. Menghargai semua bentuk kehidupan, manusia dan makhluk lainnya di Bumi,  adalah tema konstan dalam karya-karya tulis Hwang Sun-won. Pengarang Hwang percaya bahwa kehidupan manusia akan lebih baik apabila manusia menghargai dan melindungi semua makhluk hidup. Pandangannya itu terbentuk di saat pengarang Hwang mengalami sendiri kehidupan di tengah Perang Korea, lalu menuangkannya dalam cerita sang tokoh utama, Dol-i.            

        


Anak sapi itu berlari menuruni bukit, menyeberangi tepi sungai dan melangkah ke atas permukaan es. Untungnya, anak sapi itu berdiri di atas permukaan es yang tertutupi oleh pasir dan debu. Namun, Dol-i khawatir ia akan terpeleset dan jatuh. Dol-i pun mulai berjalan ke arah anak sapi itu.    

Ayah dan ibu Dol-i berteriak memanggil namanya, “Dol-i! Dol-i”, namun ia terus berjalan ke arah anak sapinya dengan senyum di wajahnya, seakan-akan ia tidak dapat mendengar suara orang tuanya.     

“Sedikit lagi, sedikit lagi...”    

Tepat di saat Dol-i bertemu dengan anak sapi itu...    

Permukaan es itu retak, dan anak sapi itu tercebur ke dalam air. Anak sapi itu mengayun-ayunkan kakinya mencoba untuk berenang sekuat tenaga, namun akhirnya tenggelam dan terseret ke dalam permukaan es, seakan-akan kakinya di dalam air yang dingin itu tidak lagi ingin mengikuti keinginannya.

Dol-i memeluk leher anak sapi itu dengan kencang. 


송아지는 쏜살같이 언덕빼기를 내려 이리 달려오는 것이었다.

방죽을 지나 얼음판에 들어섰다.

요행 흙과 재를 깔아 놓은 데로 달려오긴 하지만

저러다 미끄러져 넘어지기라도 하면 어쩌나.

돌이는 송아지가 달려오는 쪽으로 마주 걸어 나갔다.


뒤에서 아버지와 어머니의 돌이야, 돌이야 하는 째진 소리가 연달아 들렸다.

그러나 그 소리가 귀에 들어오지 않는 듯,

그냥 마주 걸어 나가는 돌이의 얼굴은 환히 웃고 있었다.

이제 조금만 더, 이제 조금만 더.

송아지와 돌이가 서로 만났는가 하는 순간이었다.  


우저적 얼음장이 꺼져 들어갔다.

한동안 송아지는 허우적거리며 헤엄을 치려고 안간힘을 썼으나

얼음물 속에서 사지가 말을 안 듣는 듯

그대로 얼음장 밑으로 가라앉기 시작했다.


그러한 송아지의 목을 돌이가 그러안고 있었다.




Hwang Sun-won (26 Maret 1915 – 14 September 2000)

- lahir di Daedong, Propinsi Pyeongan Selatan, Korea Utara

- debut di tahun 1931 dengan novel “Mimpiku”

Pilihan Editor

Close

Situs kami menggunakan cookie dan teknologi lainnya untuk memberikan Anda layanan yang lebih baik. Dengan terus menggunakan situs ini, Anda menyetujui penggunaan teknologi ini dan kebijakan kami. Detail >