Pergi ke Menu Pergi ke Halaman Utama

Zaman Suku Bunga 'Nol' Telah Berakhir

#Isu Sepekan l 2018-10-07

Warta Berita

ⓒYONHAP News

Suku bunga acuan AS dan negara-negara utama di dunia telah melebihi rata-rata 1 persen. Dengan demikian, zaman 'suku bunga nol' telah berkahir setelah sepuluh tahun dipertahankan untuk mengaktifkan ekonomi pasca krisis keuangan global tahun 2008.


'Suku bunga nol' adalah kondisi dimana bank sentral di negara-negara utama menurunkan suku bunga acuan ke level 0 persen untuk menunjang ekonomi yang menurun setelah krisis keuangan tahun 2008.


Sebagai contoh, AS menurunkan suku bunga ke level 0-0,25 persen, kemudian menaikannya sedikit demi sedikit mulai Desember tahun 2015. Pada bulan September lalu, Bank Sentral AS menaikkan suku bunga acuan sebesar 0,25 persen poin pada kisaran 2-2,25 persen.


Jepang dan negara-negara Eropa pun berencana menaikan suku bunganya pada tahun ini.


Berdasarkan hal tersebut, J.P. Morgan Chase memprediksi negara-negara utama akan menaikan suku bunga dengan rata-rata 1,6 peresen pada tahun ini. Angka tersebut lebih rendah 0,5 persen poin dibandingkan rata-rata suku bunga acuan pada tahun 2005-2007.


Sejalan dengan hal tersebut, negara-negara berkembang juga turut menaikan suku bunga acuan mereka. Misalnya, Bank Indonesia menaikkan suku bunga sebesar 0,25 persen poin, dari 5,50 menjadi 5,75 persen setelah kenaikan suku bunga AS. Indonesia telah lima kali menaikan suku bunganya sejak 17 Mei lalu karena nilai rupiah melemah dan modal investasi asing cenderung keluar.


Dalam kondisi tersebut Bank Sentral Korea (BOK) mengalami kebingungan tentang kenaikan suku bunga. Suku bunga acuan Korea saat ini berada pada nilai 1,5 persen, lebih rendah 0,75 persen dibandingkan AS. Kondisi tersebut membuat modal asing kemungkinan dapat keluar dari Korea Selatan jika selisih suku bunga semakin membesar.


BOK kemudian mengalami tekanan untuk menaikan suku bunganya. Hal tersebut tidak berjalan mudah karena kondisi ekonomi domestik yang sedang memburuk, seperti perekrutan yang lemah, prospek pertumbuhan yang diturunkan, investasi perusahaan untuk bidang konstruksi dan fasilitas yang menurun, serta kondisi pasar dan perusahaan yang kurang aktif. Jika BOK menaikan suku bunga dalam kondisi tersebut, perekonomian Korea Selatan kemungkinan akan tertekan.


Meskipun demikian, apabila AS menaikan suku bunga pada bulan Desember dan Korea Selatan membekukannya, selisihnya akan menjadi 1 persen poin dan modal asing akan keluar dari Korea. Pemerintah bahkan menyebutkan bahwa kenaikan suku bunga untuk menahan kenaikan harga rumah, sehinggaBOK kemungkinan besar akan menaikan suku bunga.

Pilihan Editor