Pergi ke Menu Pergi ke Halaman Utama

Presiden Korsel dan AS Bahas Perundingan Kembali Denuklirisasi Korut dalam Waktu Dekat

#Ulasan Hari Ini l 2019-05-08

Warta Berita

ⓒYONHAP News

Presiden Korea Selatan (Korsel) dan Amerika Serikat (AS) melakukan pembicaraan via telepon pada tanggal 7 April untuk pertama kalinya setelah Korea Utara (Korut) melakukan peluncuran proyektil jarak pendek pada pekan lalu. Pembicaraan kedua pemimpin negara itu berfokus pada pengaktifan kembali perundingan antara Korea Utara dan AS. Di samping itu, perlu diperhatikan bahwa Presiden Donald Trump memberikan dukungan atas pemberian bantuan pangan kemanusiaan bagi Korut.


Presiden Korea Selatan Moon Jae-in dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump dalam pembicaraan itu tidak mengidentifikasi proyektil yang ditembak oleh Korut. Jika proyektil itu diidentifikasi sebagai rudal, maka Korut dinyatakan melanggar resolusi Dewan Keamanan Perserikat Bangsa-Bangsa, yang melarang penembakan semua rudal balistik. Hal itu tentu saja dapat meningkatkan ketegangan di Semenanjung Korea.


Selama ini, kedua pihak tidak ingin memberikan komentarnya. Pemerintah Korsel memandang proyektil tersebut tidak dapat diklasifikasikan sebagai rudal jarak jauh dan pemerintah AS pun tidak menggunakan kata 'rudal'. Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo menegaskan bahwa penembakan proyektil Korut tidak melanggar resolusi PBB. Sikap Korsel dan AS dapat ditafsirkan bahwa kedua pihak ingin mempertahankan negosiasi denuklirisasi dengan Korut.


Namun, Moon dan Trump menilai kedua pihak telah mengambil tindakan kerja sama yang sesuai dan efektif setelah peluncuran proyektil Korut tersebut. Mereka memandang peluncuran tersebut bukan provokasi penting yang dapat menghancurkan suasana negosiasi.


Kedua pemimpin negara tampaknya melakukan upaya untuk meneruskan pembicaraan dengan Korut. Oleh karena itu, Moon akan meneruskan perannya sebagai penengah dalam perundingan denuklirisasi.


Pada KTT Korsel- AS bulan lalu, Trump memberikan Moon dukungan pada tekad Moon untuk mengadakan dialog antar-Korea. Dalam pembicaraan telepon semalam, Trump kembali mengonfirmasi niatnya untuk berdialog dengan Kim Jong-un. Hal itu mendorong pemerintah Seoul untuk melakukan KTT antar-Korea dalam waktu cepat.


Terkait dengan itu, yang menjadi perhatian utama adalah keinginan Trump untuk memberikan dukungan bantuan pangan untuk Korut atas asas kemanusiaan. Korut sedang dalam kondisi kekurangan pangan yang serius akibat sanksi terhadapnya dan menderita akibat hasil pangan yang rendah dalam negerinya. Program Pangan Dunia (WFP) PBB dan Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) turut menyatakan bahwa penghasilan pangan Korut saat ini adalah yang terburuk dalam kurun waktu 10 tahun terakhir ini.


Sementara itu, Korut dengan keras menuntut masyarakat internasional agar melonggarkan sanksi terhadapnya. Namun AS tetap bersikap keras, bahwa tidak akan ada pelonggaran sanksi hingga denuklirisasi terwujud. Dalam kondisi itu, dukungan Trump atas bantuan pangan untuk Korut dapat berfungsi sebagai pendorong untuk dialog kembali dengan Korut.


Meskipun telah melakukan provokasi, kali ini Korut telah mengatur tingkatan provokasi tersebut. Sementara Korsel dan AS menanganinya dengan “nada rendah” agar tidak memperburuk kondisinya. Hal itu diperkirakan demi melancarkan pembicaraan dengan Korut di kemudian hari dan segera melakukan gerakan untuk kembali melakukan dialog denuklirisasi.

Pilihan Editor