Pergi ke Menu Pergi ke Halaman Utama

AS Tidak akan Ikut Campur dalam Bantuan Pangan Korea Selatan untuk Korea Utara

#Ulasan Hari Ini l 2019-05-09

Warta Berita

ⓒYONHAP News

Amerika Serikat (AS) terus memastikan kembali komitmennya untuk memberikan tekanan maksimum terhadap Korea Utara melalui pelaksanaan sanksi. Sementara Korea Selatan bersedia untuk mengirimkan bantuan kemanusiaan berupa pangan kepada Korea Utara. Dalam hal ini, Washington telah menyampaikan sikapnya untuk tidak ikut campur dalam bantuan tersebut. Diharapkan meskipun tekanan maksimum tetap dilanjutkan, Seoul dan Washington mencoba untuk menemukan terobosan baru melalui bantuan pangan.


Sebelumnya, para pemimpin Korea Selatan dan AS telah berbicara melalui telepon pada tanggal 7 Mei dan telah bertukar pandangan terkait kekurangan pangan di Korea Utara. Sehubungan dengan itu, kantor kepresidenan Korea Selatan Cheongwadae mengatakan bahwa presiden AS Donald Trump menilai positif langkah tersebut dan dapat dilaksanakan di waktu yang sangat tepat. Namun pihak Gedung Putih tetap mengungkapkan proses denuklirisasi yang lengkap, terverifikasi dan menyeluruh, tanpa menyinggung perihal bantuan pangan.


Juru Bicara Gedung Putih AS Sarah Sanders pada tanggal 8 Mei memberikan jawaban atas pertanyaan para wartawan mengenai bantuan kemanusiaan ke Korea Utara. Dia menegaskan, fokus Washington berada pada proses denuklirisasi, dengan tetap berkomitmen untuk melanjutkan strategi penekanan maksimum pada Pyongyang. Ia menambahkan, AS tidak ingin ikut campur dalam hal bantuan pangan yang hendak dilakukan pemerintah Seoul.


Tetapi dalam kenyataannya, bantuan kemanusiaan untuk Korea Utara tidak dapat dikecualikan dari perhatian AS. Karena negara itu harus mengambil tanggapan untuk tetap menjaga momentum dialog, seiring dengan tindakan provokatif Korea Utara baru-baru ini. Tentunya bantuan pangan adalah tindakan kemanusiaan, namun pasti berfungsi dalam melonggarkan sanksi. Oleh karena itu, AS tampaknya menunjukkan sikap tak peduli mengenai bantuan pangan untuk Korea Utara.


Di sisi lain, di tengah kondisi dimana Presiden Moon tengah mencari perananan sebagai mediator untuk memulai kembali dialog antara Korea Utara dan AS, bantuan pangan tersebut dirasa menguntungkan bagi Korea Selatan. Terlebih lagi, organisasi internasional termasuk Program Pangan Dunia melaporkan bahwa Korea Utara tengah menghadapi kekurangan pangan yang terburuk selama sepuluh tahun terakhir. Untuk itu, pengiriman bantuan pangan itu sedang dibicarakan bersama dengan bantuan melalui badan internasional. Jika Korea Selatan mengirimkan langsung bantuan, hal tersebut juga dapat menjadi peluang untuk membuka kembali dialog antar Korea.


Namun, pangan dengan mudah dapat digunakan untuk tujuan militer, sehingga sulit untuk memberikannya dalam jumlah besar. Meskipun disebutkan bantuan pangan sebanyak 100.000 ton akan diberikan, bantuan kurang dari 10 ribu ton dianggap lebih realistis. Jika demikian, Korea Utara kemungkinan besar akan menolak bantuan yang tidak cukup tersebut untuk mengangkat harga diri nasional. Ketika bantuan besar-besaran dikirimkan, harus perlu untuk mengecualikan sanksi dalam masuknya kapal kargo ke Korea Utara.

Pilihan Editor