Pergi ke Menu Pergi ke Halaman Utama

Korsel, China dan Jepang Adakan Negosiasi FTA di Seoul

#Isu Bisnis l 2019-12-02

Dunia Bisnis

© MOTIE

Korea Selatan, China dan Jepang kembali menggelar negosiasi FTA dalam waktu tujuh bulan. Negosiasi ke-16 digelar di Seoul pada tanggal 27-29 November. Korea Selatan menyatakan bahwa perdagangan bebas terancam secara internasional, sehingga FTA antara Korea Selatan, China dan Jepang akan berada di tingkat yang lebih tinggi daripada RCEP yang baru ditandatangani. China juga menambahkan, negosiasi FTA kali ini bermakna karena dibuka sebelum KTT antara Korea Selatan, China dan Jepang pada bulan depan. Jepang juga menyepakati keperluan perjanjian yang lebih tinggi daripada RCEP. Di bawah tujuan yang sama dari tiga negara, tujuan awal dari negosiasi FTA antara tiga negara kembali diperingati. 


Negosiasi FTA antara Korea Selatan, China dan Jepang diresmikan sejak awal tahun 2000-an. Pada waktu itu, FTA antara tiga negara mendapat perhatian besar sebagai salah satu kelompok ekonomi terbesar di dunia bersama Uni Eropa, dan Perjanjian Perdagangan Bebas Amerika Utara (NAFTA). Jika ketiganya melakukan kerja sama, tidak hanya hubungan ekonomi saja yang dapat berkembang namun juga hubungan diplomasi, keamanan, dan sebagainya. Tujuan FTA antara ketiga negara sangat jelas, namun ketiga negara belum mengeluarkan hasil melalui negosiasi selama enam tahun. 


Gangguan terbesar dalam FTA adalah perbedaan struktur industri bagi tiap negara. Ada banyak hal yang dirasa rumit pada isu yang sensitif, sehingga hanya FTA antara Korea Selatan dan China yang ditandatangani. FTA antara Korea Selatan dan Jepang, atau FTA antara Jepang dan China belum terealisasi. Jika RCEP diberlakukan setelah ditandatangani secara sempurna, Korea Selatan, China dan Jepang akan terkumpul di satu zona perdagangan bebas. Penandatanganan RCEP menjadi landasan untuk FTA antara Korea Selatan, China dan Jepang, sehingga dalam negosiasi kali ini, tiga negara membahas isu di segala bidang meliputi pembukaan jasa dan barang, investasi, transaksi perdagangan elektronik, jasa kepabeanan, dan lainnya. Memang, tiga negara harus membutuhkan waktu untuk pembahasan FTA. Melalui proses tersebut, Korea Selatan juga harus mencari jalan yang dapat memakmurkan ketiga negara, dan juga perlu menata industri yang sudah ada. 


FTA adalah pedang yang memiliki dua mata. Pembukaan pasar kepada negara ekonomi besar yang lokasinya dekat menjadi peluang yang baik, maupun ancaman besar. Oleh sebab itu, Korea Selatan harus menyediakan langkah untuk meminimalkan kerugian dan memaksimalkan keuntungannya. 

Pilihan Editor