Pergi ke Menu Pergi ke Halaman Utama

Kepala Staf Gabungan Korsel, AS dan Jepang Sepakat Kolaborasi Multilateral di Bidang Keamanan

#Ulasan Hari Ini l 2019-10-03

Warta Berita

ⓒ Getty Images Bank

Para ketua Kepala Staf Gabungan Korea Selatan, Amerika Serikat dan Jepang bertemu dan mengungkapkan perlunya kolaborasi di bidang keamanan. Kesepakatan itu mendapat sorotan, karena muncul di tengah kekhawatiran atas keretakan kerja sama ketiga negara baru-baru ini. 


AS menyatakan bahwa para pemimpin militer tertinggi dari ketiga negara telah sepakat untuk menggunakan kerja sama multilateral demi perdamaian dan kestabilan di kawasan Asia Timur Laut. Hal ini juga dapat mengarah pada keputusan Korea Selatan untuk mengakhiri Perjanjian Perlindungan Informasi Militer (GSOMIA) dengan Jepang. Sejauh ini, AS secara terbuka terus menyampaikan ketidakpuasannya terhadap keputusan Seoul tersebut dan bahkan beberapa kali menyerukan pertimbangan kembali keputusan itu. Mengingat hal tersebut, kolaborasi multilateral ini dapat dipandang sebagai sebuah cara dalam bentuk apapun yang mempunyai kaitan dengan GSOMIA.


Mempertimbangkan kondisi keamanan di seputar Semenanjung Korea akhir-akhir ini, tampaknya sangat diperlukan bentuk kerja sama antara Korea Selatan, AS dan Jepang yang lebih erat dari sebelumnya. Namun dalam kenyataannya, tampak jelas telah muncul celah dalam kerja sama itu. Salah satu diantaranya adalah ketengangan antara Seoul dan Tokyo yang berkembang menjadi masalah perdagangan dan keamanan, dari yang awalnya merupakan masalah sejarah masa silam. Keretakan tersebut sangat kontras dengan penguatan kerja sama segi tiga antara Korea Utara, China dan Rusia. Oleh sebab itulah, AS mendesak Korea Selatan untuk mempertimbangkan kembali keputusan penghentian GSOMIA. 


Kolaborasi Korea Selatan, AS dan Jepang di bidang militer dipimpin oleh AS. Dalam hal kerja sama informasi militer, semua informasi dikumpulkan di AS dan kemudian disebarkan kembali ke negara-negara sekutunya. Demikian pula, bagi AS, penghentian GSOMIA berarti runtuhnya satu bagian dari jaringan informasi militer. Bahkan celah terkecil pun dianggap dapat melemahkan kemampuan sistem informasi militer secara keseluruhan. Pertemuan Ketua Kepala Staf Gabungan dari ketiga negara tersebut bisa menjadi titik balik penting untuk memulihkan dan memperkuat kerja sama trilateral. Segala rincian yang telah disepakati dalam pertemuan tersebut menjadi unsur utama dalam kebijakan keamanan diantara ketiga negara. 


Sementara itu, pertemuan Menteri Pertahanan antara Korea Selatan, AS dan Jepang dijadwalkan akan berlangsung pada bulan November, dan kemudian berlanjut ke pertemuan tingkat kerja kebijakan pertahanan antara Korea Selatan dan Jepang pada bulan Desember. Pertemuan menteri pertahanan antara ketiga negara itu sebelumnya telah diadakan pada bulan Juni lalu. Saat itu, Korea Selatan dan Jepang mengalami konflik terkait kasus radar dan kapal patroli. Meskipun begitu, ketiga menteri pertahanan telah mengungkapkan dengan satu suara bulat untuk menyelesaikan masalah nuklir Korea Utara dalam sarana diplomatik. Kali ini ketiga menteri tersebut akan kembali bertemu di tengah munculnya agenda utama mengenai GSOMIA. Sehubungan dengan hal itu, Asisten Menteri Pertahanan AS untuk Urusan Keamanan Asia dan Pasifik, Randall Schriver, mengatakan bahwa AS akan memainkan peran apa yang dapat dilakukannya. Sebelumnya, dia sempat menegaskan bahwa Korea Utara, China dan Rusia akan mendapatkan keuntungan, sebagai dampak dari ketegangan antara Korea Selatan dan Jepang. 

Pilihan Editor